Filosofi Wayang

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Filosofi Wayang
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

Masyakat Jawa pada dasarnya sangat toleran, seperti yang disimpulkan Anderson. Namun, pada titik tertentu mereka bisa sangat ‘’cruel and violent’’, bengis dan keras, tidak segan menumpahkan darah seperti yang terjadi dalam Baratayuda.

Itulah yang bisa menjelaskan mengapa terjadi pembunuhan masal pada 1965. Kekerasan semacam itu masih berpotensi terjadi lagi pada masa-masa mendatang.

Filosofi politik Indonesia tidak bisa lepas dari filosofi wayang. Soeharto menjadikan wayang sebagai sumber utama filsafat kekuasaannya. Jokowi juga sama dengan Soeharto. Ia menjadikan filosofi wayang sebagai sumber acuan filsafat kekuasaannya.

Beberapa hari terakhir ini media sosial ingar bingar soal kontroversi wayang yang dianggap haram. Bersamaan dengan itu di media sosial juga sedang trending soal persamaan Soeharto dan Jokowi.

Apakah wayang haram? Jokowi pasti menjawab tidak. Apakah Jokowi sama dengan Soeharto? Iya, dalam urusan filsafat wayang. (*)

Apakah wayang haram? Jokowi pasti menjawab tidak. Apakah Jokowi sama dengan Soeharto?


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News