Flexing

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Flexing
Doni Salmanan si crazy rich Bandung. Foto: Ricardo/JPNN.com

Istilah flexing yang banyak dipakai di media sosial artinya memamerkan kekayaan.

Pamer kekayaan OKB di media sosial dilakukan secara amat berlebihan. Media sosial memungkinkan fenomena flexing menjadi tren yang digilai banyak orang. Dahulu pamer kekayaan dianggap tabu, dilarang, dan tidak pantas, tetapi kini jadi hal yang umum.

Beberapa hal yang sering dipamerkan seperti saldo ATM, uang yang bertumpuk, pakaian mahal, jet pribadi, liburan ke luar negeri, tas mewah, mobil mewah, dan sederet barang mewah lainnya.

Lalu muncullah sebutan ‘’crazy rich’’ dan ‘’sultan’’ untuk menggambarkan anak-anak muda yang kaya raya secara mendadak itu.

Flexing atau pamer dilakukan untuk mencapai beragam tujuan, di antaranya menunjukan status dan posisi sosial, menciptakan kesan bagi orang lain, dan menunjukan kemampuan.

Awalnya flexing banyak digunakan sebagai strategi marketing yang dilakukan para pembicara, lewat CV mereka akan menjelaskan latar belakang pendidikan, pencapaian, penghargaan dan lain-lain.

Tujuannya agar audiens yang hadir yakin dengan kapasitas dan kemampuan pembicara. Ada juga yang melakukan flexing dengan memamerkan prestasi, hasil pencapaian pekerjaan, penghargaan di media sosial mereka.

Flexing di dunia digital sekarang dilakukan oleh orang yang suka memamerkan kekayaan yang sebenarnya tidak mereka miliki. Flexing berarti orang yang palsu, memalsukan, atau memaksakan gaya agar diterima dalam pergaulan tingkat tinggi.

Sekarang ini di media sosial sedang musim flexing, yaitu pamer kekayaan. Mereka baru menyesal saat berstatus sebagai tersangka.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News