FPDIP Sebut Perundingan Sia-sia

FPDIP Sebut Perundingan Sia-sia
PROTES - Sejumlah aktivis berdemo sambil membakar uang kertas Malaysia, beberapa hari lalu. Foto: Choirurrozaq/Radar Tulungagung.
Misalnya, dia memberi contoh, fakta bahwa Malaysia mengimpor batubara dari Indonesia hampir 10 juta metrik ton. Selain itu, bisa juga berbicara mengenai kemampuan TNI yang kuantitasnya tiga kali lipat dibandingkan tentara Malaysia.

"Jangan kita bicara mengenai alutsista, karena alutsista itu bukan faktor utama untuk memenangkan sebuah perang," ujarnya. "Walaupun kita tidak akan perang, tetapi harus kita bangkitkan bangsa ini supaya memiliki kepercayaan diri," imbuh Hasanuddin. Dia menegaskan pidato presiden itu telah membuat rendahnya bargaining position Indonesia pada perundingan Kinabalu.

"Saya mendapatkan informasi dari Kinabalu, mereka hanya melakukan pertemuan selama tiga jam, dengan agenda perkenalan, karena ternyata tim perundingan dari Malaysia itu orang baru semua," kata Hasanuddin. Selain itu, imbuh dia, pertemuan itu juga hanya membuat jadwal-jadwal apa saja yang akan dibicarakan pada tahun depan. Termasuk penyampaian nota protes dari masing-masing negara.

"Setelah itu pertemuan selesai, dan menunggu berbuka puasa. Jadi apa yang bisa didapatkan?" kritiknya pedas. Hasanuddin mengatakan bahwa FPDIP sangat memprihatinkan kondisi ini. "Saya yakin kita takkan mendapat apa-apa dari perundingan Kinabalu. Ini artinya negara kita tak di-manage dengan baik," tandasnya. (zul-jp/pri)
Berita Selanjutnya:
JK: Indonesia Harus Tegas

JAKARTA - Fraksi PDIP di DPR RI mengajukan kritik tajam terhadap perundingan di Kinabalu. TB Hasanuddin, Wakil Ketua Komisi I DPR, mengatakan bahwa


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News