Gaek Taher, Pikun, Lumpuh, Ditinggal Istri dan Anak-anaknya

Gaek Taher, Pikun, Lumpuh, Ditinggal Istri dan Anak-anaknya
Gaek Taher sedang duduk di beranda gubuknya di Kapalo Koto Kuranji, Padang(29/12). Foto: SYAWAL/PADANG EKSPRES/JPG

Gubuk yang ditempati Gaek Taher sekarang dibangun masyarakat setempat. Beberapa bulan silam, warga menyumbang atap seng dan papan. Kemudian sawah yang berada di belakang gubuk diperuntukan buat Gaek Taher. Saat ini Anwar yang mengurusi sawah tersebut.

“Hasil sawah untuk makan si Gaek. Sawah tersebut hanya menghasilkan paling banyak lima karung padi,” terang Anwar.

Kehidupan keluarga Anwar juga bisa dikatakan sulit. “Kadang hanya nasi putih pakai garam saja untuk si Gaek, karena itu yang kami punya. Kami makan itu juga,” tutur Ermawati lirih.

Pernah suatu ketika, gubuk Gaek Taher terendam banjir arus deras. Si Gaek terperangkap di dalam rumah. “Terpaksa si Gaek digendong oleh anak saya,” ujar Ermawati.

Meski hidup menderita, Gaek Taher tetap tersenyum menyambut Padang Ekspres . “Mau apa ke sini, mau memberikan saya pesawat ya?” kelakar si Gaek sambil terbahak.

Kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan Pak Gaek ini adalah merokok. Asap rokok nipah mengepul dari bibirnya. “Orang-orang ke sawah selalu memberikan beliau daun nipah dan tembakau,” imbuh Anwar.

Para petani yang berladang di sekitar gubuk Gaek Taher selalu berbagi makanan. Terkadang ada yang membawakan martabak, gorek pisang, pical dan lain sebagainya.

Ali Akbar, Ketua RT 03 RW 2, pernah mengusulkan agar gubuk Gaek Taher mendapat program bedah rumah. Lantaran tanah tempat gubuk Gaek Taher sedang bersengketa, akhirnya batal dilakukan. “Tapi beras bantuan selalu kami utamakan untuk beliau,” terangnya.

TAHER, 85, selama 15 tahun terbaring lemah di gubuk reyot di tengah sawah. Bertahan hidup dari belas kasihan para petani di Kelurahan Kapalokoto,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News