Senin, 17 Juni 2019 – 17:54 WIB

Garuda Bahagia, Penjamin Merana

Sabtu, 12 Februari 2011 – 17:21 WIB
Garuda Bahagia, Penjamin Merana - JPNN.COM

JAKARTA - "Landing" hari pertama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) di lantai bursa tidak mulus. Target perseroan untuk meraup dana Rp 3,3 triliun dari hasil go public itu memang tercapai, tetapi sahamnya langsung melorot ditutup di level Rp 620 per saham dari pembukaan di Rp 750.

Pencatatan perdana saham GIAA di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin dihadiri oleh seluruh direksi BUMN penerbangan itu dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abu Bakar. Setelah dibuka, saham maskapai penerbangan nasional itu langsung turun dan menyentuh level terendah Rp 580.

Mustafa mengatakan, GIAA memang sudah dijadwalkan listing saat ini juga, walaupun di luar dugaan, pasarnya sedang tidak mendukung. "Karena berani melangkah ketika pasar global lemah, jadinya turun. Kita berharap semoga segera berada pada angka yang stabil. Mungkin enam bulan kemudian baru akan stabil," ujarnya di BEI, kemarin.

Berani melantai, kata Mustafa, harus berani ambil risiko. Hal tersebut yang dihadapi GIAA saat ini. Meski begitu, pihaknya masih optimis bahwa GIAA akan menjadi salah satu saham unggulan di masa mendatang. "Garuda sudah bintang 4, semoga bintang 5 nanti. Nilai saham akan sama dengan prestasi," paparnya.

Direktur Utama GIAA Emirsyah Satar mengatakan, pihaknya tidak bisa campur tangan dan di luar kuasa terkait dengan kinerja saham di hari pertama. "Kalau dari kami kan, sebenarnya target dari awal untuk mendapatkan dana Rp 3,3 triliun sudah tercapai. Saya tidak tahu dari mana datangnya kabar bahwa IPO ini bisa raih dana, bahkan sampai ada yang bilang Rp 7 triliun," ungkapnya.

Emir mengatakan, seluruh dana yang didapat dari hasil melantai itu akan digunakan untuk meningkatkan kinerja perseroan. "Yang terpenting buat Garuda, semua saham terserap," ucapnya.

Perseroan ini akan fokus merestrukturisasi diri dan dalam jangka pendek, sampai dengan 2016 semua utang sudah lunas. Sisa utang saat ini sebesar USD 270 juta dari total semula USD 460 juta dan akan dibayar per tahun USD 40 juta. "Pada 2016 sudah selesai," imbuhnya.

Sementara itu, penjamin emisi penawaran saham perdana GIAA yang terdiri atas Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Bahana Securities, disebut bertanggung jawab menyerap saham yang tidak ditebus investor senilai Rp 2,25 triliun. Dalam data di BEI, saham yang belum bertuan itu mencapai 3,008 miliar lembar, atau sekitar 47,5 persen dari saham yang ditawarkan.

Direktur Utama Danareksa Sekuritas, Marciano Herman mengatakan, sebanyak tiga miliar lembar saham yang tidak terserap investor akan diserap oleh ketiga penjamin emisi. "Kami siap saja membeli saham yang tidak terjual, karena kami melihat fundamentalnya bagus," ujarnya.

Pihaknya mengaku tidak khawatir hal tersebut memengaruhi modal kerja bersih disesuaikan perusahaan efek (MKBD), karena selain menjadi pelaksana penjamin emisi, Danareksa masih memiliki dua jenis bisnis lain; Perantara Pedagang Efek dan Manajer Investasi.

Managing Director UBS Securities, Vincent Rajiv Louis mengatakan, koreksi harga yang terjadi karena dipengaruhi oleh faktor inflasi global, sehingga waktu pencatatan saham perdana yang dilakukan tidak tepat. "Investor asing mengakui kalau harga ini memang mahal, tapi mereka menyukai fundamental dan manajemen perusahaannya. Jadi tinggal tunggu waktu saja sampai asing masuk kembali dan mengincar saham Garuda," yakinnya. (gen/kim/ito/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar