Gempa Lombok: Panik, Suara Istigfar dan Tangisan

Gempa Lombok: Panik, Suara Istigfar dan Tangisan
Gempa Lombok: Anggota TNI mengangkat seorang nenek korban gempa di Desa Obel obel, Lombok Timur, dibawa sejauh dua kilometer menuju tempat pengungsian, Minggu (29/7). Foto: IVAN/LOMBOK POST/JPNN.com

jpnn.com, LOMBOK TIMUR - Gempa berskala 6,4 SR yang terjadi di Lombok, NTB, Minggu (29/7) menyisakan trauma bagi warga Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Seorang warga Desa Sembalun Bumbung Imin menerangkan warga belum berani memasuki rumahnya. Adanya gempa susulan yang terus-menerus terjadi membuat warga diterkam trauma.

“Malam ini kita akan tidur di tenda,” kata Imin sembari membantu pihak desa mendata rumah yang rusak, Minggu (29/7).

Hingga pukul 14.00 Wita, gempa susulan dengan skala kecil terus terjadi. Merasakan hal tersebut, beberapa warga mengucapkan istigfar, sembari melihat kondisi rumahnya yang ambruk. Anak-anak pun menangis minta segera digendong. Kepanikan sangat terasa saat bumi bergetar.

“Kita trauma pak. Anak saya nangis terus. Dia ketakutan,” kata ibu Yuni seorang warga yang rumahnya sudah rata dengan tanah.

Menurut pekerja KPLH Sembapala warga Sembalun Lawang Rijalul Fikri, gempa terjadi pada sekitar pukul 6 pagi. Kata Rijal, awalnya gempa pertama tidak terlalu besar. Sehingga warga bisa menyelamatkan diri dengan segera.

Karena itu, sebagian besar warga Sembalun Lawang dan Bumbung bisa menyelamatkan diri dan keluarganya. “Kita bersyukur, gempa tidak langsung besar seperti yang kedua,” kata Rijal.

Berdasarkan pantauan Lombok Post (Jawa Pos Group), Posko bencana gempa terlihat di beberapa titik. Mulai dari lapangan Sembalum Bumbung, depan puskesmas Sembalun, kantor camat sembalun, dan lapangan umum Desa Sajang. Di titik-titik tersebut, berbagai bantuan dan relawan pun sudah mulai berdatangan.

Gempa Lombok, NTB, berskala 6,4 SR yang terjadi Minggu (29/7), berdampak besar pada warga di Kecamatan Sembalun dan Sambelia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News