Selasa, 23 Juli 2019 – 15:03 WIB

Gerakan Anti Feminis Menguat di Indonesia

Senin, 27 Mei 2019 – 10:00 WIB
Gerakan Anti Feminis Menguat di Indonesia - JPNN.COM

Mereka menyebut feminisme sebagai "racun". Mereka juga menertawakan kaum LGBT.

Kampanye anti-feminis:

  • Kaum konservatif yang giat di media sosial mengklaim "tubuhku bukan milikku, tetapi milik Allah SWT"
  • Gerakan anti-feminis merespons kampanye RUU anti kekerasan seksual
  • Perempuan dimobilisasi oleh kelompok Islam garis keras dan partai politik di Indonesia

Munculnya gerakan Indonesia Tanpa Feminis - tepat sebelum pemilu 17 April - menjadi viral karena secara lantang menentang gerakan feminisme sebagai nilai yang diimpor dari Barat dan tidak sesuai dengan norma-norma agama.

Penolakan mereka terhadap feminisme didasarkan pada pernyataan bahwa "tubuhku bukan milikku, melainkan milik Allah SWT". Kampanye mereka telah memicu perdebatan tentang peran wanita di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Indonesia Tanpa Feminis mengusung slogan #UninstallFeminism dan mencerminkan gerakan konservatif yang semakin mahir dan teknologis menarik kalangan milenial dengan berbagai meme dan gambar. Hal itu gagal diimbangi oleh organisasi mainstream dan moderat.

"Saya tidak butuh feminisme karena itu merusak konstruksi keluarga tradisional," kata salah satu postingan.

"Jika kita berbicara tentang anti-feminisme, itu bukanlah hal baru," ujar Dr Dina Afrianty, seorang peneliti di La Trobe University.


Menurut aktivis anti kekerasan terhadap perempuan Yuni Asrianty, yang baru adalah penggunaan platform digital dan advokasi kebijakan anti-feminis untuk mendorong ide-ide mereka yang puritan dan konservatif.

Sejumlah pengamat belum lama ini menyoroti bahwa gerakan ini juga menandakan pergeseran ke arah keterlibatan perempuan yang lebih aktif dalam kegiatan anti-feminis secara eksplisit.

Koalisi yang berkembang

Indonesia Tanpa Feminis didukung ribuan follower melalui platform media sosialnya sejak didirikan tiga bulan lalu.

Ini juga terkait dengan gerakan konservatif mapan lainnya termasuk Indonesia Tanpa Pacaran, di mana meme dan merchandise yang mempromosikan kesucian telah menarik hampir 1 juta follower.

"Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran memang diprakarsai oleh kaum muda untuk kaum muda," kata Dyah Ayu Kartika, peneliti pada Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD Paramadina) di Jakarta.

"Gerakan ini sangat besar. Sudah ada cabang di beberapa kota besar di Indonesia," katanya kepada ABC.

Perempuan semakin dimobilisasi oleh kelompok Islam garis keras dan partai politik di Indonesia.

Laporan dari Institut Analisis Kebijakan Konflik Jakarta menyebut gerakan massa melawan mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama telah "mengaktifkan lembaga politik perempuan di garis konservatif".

"Para aktivis ini percaya kaum ibu harus memobilisasi melawan Jokowi untuk melindungi anak-anak mereka dari komunisme, homoseksualitas, dan ancaman moral lainnya yang terkait dengan kubu Jokowi," kata laporan itu.

Rival Presiden Joko Widodo, Prabowo Subianto dan Partai Gerindra, memobilisasi sukarelawan perempuan dalam upaya mengalahkan petahana.

"Ibu-ibu dipandang sebagai pendidik dan penjaga moral keluarga - bahkan bangsa," kata Ayu Kartika.

Sementara antropolog Australia Dr Linda Rae Bennett, menilai gerakan Indonesia Tanpa Feminis dan aktivisme konservatif yang dipimpin perempuan lainnya merupakan tanggapan terhadap RUU anti kekerasan seksual.

RUU itu sendiri antara lain dirancanag untuk melarang tindak perkosaan dalam hubungan suami-istri.

Sejauh ini partai-partai di DPR RI mengisyaratkan dukungannya terhadap RUU ini, kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang secar tegas menolaknya.

Dr Bennett menggambarkan aktivisme anti-feminis baru sebagai "perang proksi" dari kalangan pria penentang RUU yang akan kehilangan hak mereka melakukan hubungan seksual dengan istrinya kapan pun mereka kehendaki.

Sementara itu, politisi Partai PKS Azizah Nur Tamhid, diperkirakan berhasil terpilih kembali di DPR RI, sejalan dengan meningkatnya suara partai ini dalam Pemilu 2019.

Para aktivis femis tetap optimis bahwa RUU tersebut nanti akan disahkan, dengan menunjuk contoh lolosnya UU anti kekerasan dalam rumah tangga tahun 2004.

"Gerakan perempuan di Indonesia mungkin masih muda, tetapi tidak lemah," kata Dr. Bennett.

ABC sudah berusaha menghubungi pengelola Indonesia Tanpa Feminis, namun belum mendapatkan tanggapan.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.

 
SHARES
Komentar