JPNN.com

Gerakan Literasi yang Dikembangkan Michelle Cukup Unik

Rabu, 15 Januari 2020 – 05:02 WIB Gerakan Literasi yang Dikembangkan Michelle Cukup Unik - JPNN.com
Michelle Setiawan bersama sejumlah pegawai di Puskesmas. Foto: Istimewa for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Gerakan literasi yang dilakukan kaum muda dipercaya mampu memberi pengaruh tidak hanya untuk masyarakat seusianya, tetapi juga dipercaya bisa menular ke kaum lebih tua.

“Kalau orang bilang tingkat keliterasian kita rendah, bukan berarti kita menjadi pesimistis tetapi harus meningkatkannya. Dan mesin penggeraknya, salah satunya adalah anak muda,” ujar pengamat sosial, Maman Suherman di Jakarta, Selasa (14/1).

Maman tidak menampik banyak gerakan literasi yang dilakukan anak muda memang masih dalam skala kecil. Namun, bukan berarti gerakan tersebut tidak berpengaruh.

“Anak muda tahu bagaimana cara membuat yang kecil menjadi besar dengan cara berkolaborasi. Kata kunci di era disrupsi ini adalah kolaborasi. Kalau mereka mampu berkomunikasi dengan baik, mampu berkolaborasi, tetap mampu berpikir kritis, gerakan ini bakal menjadi besar,” tutur Maman.

Tingkat literasi Indonesia memang masih rendah. Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 menunjukkan, tingkat baca Indonesia hanya berada di peringkat 62 dari 70 negara.

Survei World Culture Index malah lebih parah. Pada 2018, tingkat literasi dan membaca Indonesia berada di peringkat kedua terbawah, rangking 60 dari 61 negara.

Rendahnya tingkat literasi Indonesia menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Michelle Setiawan. Pelajar berusia 16 tahun ini pun membuat gerakan literasi yang cukup unik. Ia memilih puskesmas sebagai wadah untuk ia menyalurkan buku-buku yang hendak diberikannya kepada khalayak.

“Saya tahu, indeks baca Indonesia itu nggak tinggi. Padaha aku pikir, orang harus banyak baca buku untuk meyelesaikan masalahnya,” cerita Michelle.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...