Gorbachev Ingatkan Obama

Pulihkan Ekonomi, Bukan Diperangi

Gorbachev Ingatkan Obama
Mantan pemimpin Uni Sovyet, Mikhail Gorbachev. Foto : REUTERS
Dalam pertempuran yang melibatkan Pakistan dan AS sebagai sekutu Afghanistan tersebut, tidak kurang dari 13.000 serdadu Soviet dilaporkan tewas. Tapi, jumlah korban sipil dari pihak Afghanistan jauh lebih besar. Menurut CNN, jumlah warga sipil yang tewas dalam konflik tersebut mencapai lebih dari satu juta jiwa. Itu belum termasuk jumlah korban tewas dari pihak militer.

     

Senada dengan Gedung Putih, Gorbachev pun tidak memungkiri peran Afghanistan dalam membidani lahirnya terorisme internasional. "Saat dihadapkan pada ancaman terorisme, seperti yang terjadi di Afghanistan, tujuan kita pasti mengalahkannya. Tapi, solusi damai lewat perundingan tetap harus menjadi prioritas utama. Penarikan pasukan (AS) dari Afghanistan harus dilakukan," papar penerima Nobel Perdamaian 1990 itu.

     

Dalam kesempatan itu, Gorbachev juga menyarankan Washington untuk lebih fokus pada rekonstruksi Afghanistan. Juga, pada rekonsiliasi nasional yang menjadi salah satu agenda utama pemerintahan baru Presiden Hamid Karzai. Dia juga mengimbau AS melakukan hal yang sama di Iraq.

   

Bersamaan dengan itu, salah satu dari enam mantan komandan Soviet yang pernah terlibat dalam Perang Soviet-Afghan juga memperingatkan Obama. Jenderal Victor Yermakov, pemimpin Batalion 40 Angkatan Darat (AD) Soviet pada Mei 1982-November 1983, tidak ingin AS mengulang sejarah pahit yang sama dengan negerinya. Sebab, menurut dia, perang di Afghanistan adalah pertempuran yang tidak mungkin bisa dimenangkan.

   

WASHINGTON - Sebelum mengambil keputusan untuk mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama sudah diperingatkan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News