Hasto Ingin Perencanaan Pembangunan Nasional Berdasarkan Koridor Strategis

Hasto Ingin Perencanaan Pembangunan Nasional Berdasarkan Koridor Strategis
Dosen Ilmu Pertahanan (Unhan) RI Hasto Kristiyanto menjadi pembicara kunci dalam acara Seminar Nasional “Marwah Geopolitik dan Geostrategi dalam Arsip” yang digelar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Ruang Noerhadi Magetsari ANRI, Jakarta, Jumat (25/8). Foto: Tim Dokumentasi Hasto

jpnn.com, JAKARTA - Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) RI Hasto Kristiyanto mengatakan pemahaman geopolitik Soekarno dalam konstelasi strategis sangat penting termasuk dalam melakukan perencanaan pembangunan nasional berdasarkan koridor strategis. Sebab pada 1958 sudah dirumuskan rencana koridor-koridor strategis dengan kampus sebagai city of Intellect.

Hasto Kristiyanto menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci di Seminar Nasional “Marwah Geopolitik dan Geostrategi dalam Arsip” yang digelar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta, Jumat (25/8).

"Koridor strategis tadi sudah banyak ditinggalkan, padahal dulu kita merancang Universitas Pattimura sebagai city of intelect dalam membangun kekuatan oseonografi kekuatan terbesar di Asia. Jadi, Pattimura itu pusat pengetahuan riset inovasi terkait oseonografi. Maka koridor strategis dari Indonesia timur menjadi kekuatan dalam kompartemen maritim kita," kata Hasto.

Lalu, Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pusat penelitian teknologi angkasa luar, teknologi nuklir, dan persenjataan serta industrialisasi di Indonesia. Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai pusat pembangunan kekuatan pangan sehingga Indonesia berdaulat.

Dalam konteks pertahanan, lanjut Hasto, Angkatan Laut dipusatkan di Indonesia bagian timur. Kemudian Angkatan Udara berada di Kalimantan sebagai Ibu Kota Negara.

Angkatan Darat berada di Jawa dan masing-masing ditopang oleh city of intelect dari perguruan tinggi, sehingga perguruan tinggi diangkat dengan konsepsi dalam membangun koridor-koridor strategis Indonesia sekaligus konsepsi tentang pertahanan negara.

"Hanya saja sayang sekali konsepsi kesatupaduan antara the power of intelectual leadership ini dari perguruan tinggi tidak connect dengan kebijakan kebijakan pembangunan atas cara pandang geopolitik yang berdasarkan aspek-aspek geostrategis," sebut Hasto.

Hasto sangat menyayangkan apabila kapal-kapal besar melewati Sabang tanpa mendapatkan pemanfaatan.

Hasto sangat menyayangkan apabila kapal-kapal besar melewati Sabang tanpa mendapatkan pemanfaatan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News