Hoaks Didesain Menggabungkan Kecanggihan Teknologi Informasi dan Psikologi

Hoaks Didesain Menggabungkan Kecanggihan Teknologi Informasi dan Psikologi
Peringatan: Waspada berita hoaks. ILUSTRASI. Foto: Pixabay.com

“Jadi bukan hanya informasinya yang sepi tapi bagaimana informasi itu dipergunakan untuk mengelola opini, siapa yang mengelola opini, siapa yang menguasai opini, dialah yang menguasai medsos,” ujar Hans.

Menurutnya, setiap orang kini memiliki lebih dari satu grup whatsapp. Sesuatu informasi kebohongan yang diulang-ulang terus menerus maka akan menjadi kebenaran. Jika sudah menjadi kebenaran maka informasi itu disebar di ruang public. “Ini yang terjadi sekarang ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPP IMM Ary Sudanto melihat tidak semua kemajuan teknologi informasi berdampak buruk terhadap penggunanya, tapi juga bermanfaat bagi masyarakat. Menurutnya, kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan menjadi bisnis yang mendatangkan keuntungan dan membuka lapangan kerja baru.

“Jadi ibaratnya pisau bermata dua, dia akan memberikan hasil yang baik atau sebaliknya. Yang baik tentunya seperti e-commerce yang digunaan untuk bisnis seperti ojek online. Sebaliknya hal buruk disebut hoaks dan merusak tatanan masyarakat,” tutup Ary.(jpnn)


Hoaks ini memiliki pola yang terstruktur, diulang-ulang, dan mengaduk-aduk emosi dan kepercayaan seseorang. Sebab, informasi menyesatkan dengan tujuan tertentu tersebut, memang didesain dengan menggabungkan kecanggihan teknologi informasi dengan psikologi


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News