Indonesia Butuh Perubahan Radikal untuk Target Rendah Karbon

Indonesia Butuh Perubahan Radikal untuk Target Rendah Karbon
Ilustrasi. Pembangkit listrik. Foto dok PLN

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia membutuhkan perubahan radikal di sektor energi, untuk mencapai target pembangunan rendah karbon.

Menurut Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Maxensius Tri Sambodo, menyebutkan fakta pertama dari hasil penelitian menunjukkan sektor energi, khususnya pembangkit listrik terjebak pada sumber karbon intensitas tinggi, dan di sisi lain energi terbarukan belum berkembang seperti yang diharapkan.

Hal tersebut mengacu pada Outlook Energi 2019 dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), yang mencatat porsi bauran pasokan energi primer Indonesia periode 2008-2018, dengan konsumsi minyak pada 2008 mencapai 48,63 persen dan 2018 turun menjadi 38,81 persen.

Lalu, konsumsi gas juga menurun dalam 10 tahun dari 24,08 persen pada 2008 menjadi 19,67 persen pada 2018.

Sedangkan porsi energi baru terbarukan (EBT) pada 2018 naik menjadi 8,6 persen dari sebelumnya 4,37 persen pada 2008.

Namun, konsumsi energi dari batubara justru meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir, dari 22,92 persen pada 2008 menjadi 32,97 persen pada 2018.

Jika melihat Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang memasang target porsi EBT sebesar 23 persen pada 2025, maka dalam tujuh tahun ke depan artinya harus mampu naik 17 persen, sehingga, menurut Maxensius, perlu langkah radikal untuk mencapai target tersebut.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028, kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia dari 2004 ke 2018 terlihat juga ada kenaikan signifikan untuk porsi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara menjadi 56,7 persen. Jika pada 2004 kapasitas terpasang PLTU  batubara hanya 9.750 MW, maka 2018 sudah mencapai 31.578 MW.

Indonesia membutuhkan perubahan radikal di sektor energi, untuk mencapai target pembangunan rendah karbon.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News