Innalillahi, Islam Kehilangan Sebuah Harta Karun

Innalillahi, Islam Kehilangan Sebuah Harta Karun
Warga Iran menangisi kepergian Akbar Hashemi Rafsanjani. Foto: AFP

jpnn.com - jpnn.com -Pemerintah Iran memberlakukan tiga hari berkabung nasional, menyusul wafatnya mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, Minggu (8/1) waktu setempat.

Tokoh moderat yang menjadi salah satu pilar revolusi Islam pada 1979 itu adalah sosok yang sangat dicintai rakyat. "Islam kehilangan salah satu harta karun terbesarnya. Iran kehilangan jenderal terpandangnya sekaligus pengibar bendera Revolusi Iran yang sangat pemberani,” ungkap Presiden Hassan Rouhani, dalam ungkapan dukacitanya, Senin (9/1).

Rafsanjani mengembuskan napas terakhirnya karena serangan jantung, Rouhani berada di samping tempat tidurnya. Menurut rencana, jenazah pria 82 tahun itu dikebumikan hari ini.

Kemarin (9/1) Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei memberikan penghormatan terakhirnya kepada Rafsanjani. ”Ini adalah rasa kehilangan yang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya saat memimpin upacara yang dihadiri para pemimpin politik tersebut.

Penghormatan terakhir untuk Rafsanjani digelar di Hussainiya Jamaran, sebuah hall keagamaan di kawasan utara Kota Teheran. Gedung tersebut dikelola secara turun-temurun oleh keluarga mendiang Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Semasa hidup, Rafsanjani menjabat presiden selama dua periode. Di bawah kepemimpinannya, Iran menjadi negara yang moderat. Sebab, sosok reformis tersebut cenderung kalem dalam menghadapi segala hal yang berkaitan dengan politik internasional. Tapi, semuanya berubah setelah dia lengser. Sebab, penerusnya adalah Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang dikenal radikal.

Kemarin jalanan di ibu kota dan kota-kota besar Iran berhias spanduk berwarna hitam dengan tulisan yang menunjukkan rasa terima kasih rakyat kepada Rafsanjani. Media-media cetak Iran pun memasang foto presiden yang memimpin sejak 1989 hingga 1997 itu pada halaman depan.

Sebagai bentuk penghormatan kepada mantan orang nomor satu Negeri Para Mullah itu, pemerintah membatalkan seluruh konser dan acara komedi di televisi. ”Saya melihat cinta dan perhatian rakyat yang luar biasa besar untuk ayah saya. Doa kalian menguatkan hati kami. Terima kasih atas cinta dan kesetiaan Anda semua,” kata Yaser, putra bungsu Rafsanjani.

Pemerintah Iran memberlakukan tiga hari berkabung nasional, menyusul wafatnya mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, Minggu (8/1) waktu setempat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News