JPNN.com

Jalur Migrasi Orang Aborigin Menghubungkan Sorong hingga Hobart

Minggu, 02 Mei 2021 – 21:05 WIB
Jalur Migrasi Orang Aborigin Menghubungkan Sorong hingga Hobart - JPNN.com
Sekitar 60 ribu tahun silam, Australia masih tersambung dengan Papua dan Tasmania dalam wilayah daratan yang dikenal sebagai Benua Sahul. (Supplied)
Jalur Migrasi Orang Aborigin Menghubungkan Sorong hingga Hobart
Sekitar 60 ribu tahun silam, Australia masih tersambung dengan Papua dan Tasmania dalam wilayah daratan yang dikenal sebagai Benua Sahul. (Supplied)

Enam puluh ribu tahun silam, ketika wombat seukuran badak dan kanguru pemakan daging masih hidup di Australia, orang aborigin baru saja tiba di sini.

Orang Australia pertama diperkirakan tiba ketika benua ini masih berupa daratan yang jauh lebih luas, ketika permukaan laut lebih rendah, menghubungkan Pulau Papua dan Pulau Tasmania, dikenal sebagai Benua Sahul.

Penelitian terbaru dari Centre of Excellence for Australian Biodiversity and Heritage di bawah Australian Research Centre menunjukkan jalur yang kemungkinan dilewati oleh orang Aborigin purba saat mereka melintasi benua ini.

Profesor Corey Bradshaw, salah satu peneliti yang memetakan rute tersebut, menjelaskan penelitian ini ingin mengungkap bagaimana orang pertama kali tiba di Australia.

"Kami ingin memahami bagaimana mereka sampai di sini, dan juga apa yang mereka lakukan setelah mereka tiba," katanya kepada ABC.

Pemodelan tersebut mengambil data dari arkeolog, antropolog, ekologi, ahli genetika, ahli iklim, geomorfologi dan ahli hidrologi, dan menganalisis informasi untuk mendapatkan rute yang paling mungkin dilewati.

Jalur 'Super-highways' 

Hipotesis pemodelan ini menyebutkan bahwa orang Australia pertama tiba di pesisir pantai Australia Barat, di wilayah Kimberley sekarang, sekitar 60 ribu tahun silam, dan dalam 6.000 tahun mereka telah menetap di seluruh benua, dari ujung utara tropis hingga ke Tasmania di selatan.

"Ini salah satu peristiwa migrasi besar paling awal di luar Afrika, dalam seluruh sejarah manusia modern," jelas Prof Corey Bradshaw.

Sumber ABC Indonesia

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...