Jangan Gunakan Medsos untuk Sebar Isu SARA saat Pilkada

Jangan Gunakan Medsos untuk Sebar Isu SARA saat Pilkada
Ilustrasi Facebook. Foto: AFP

Selain itu, bukan tidak mungkin isu SARA dimainkan kelompok radikal dengan membawa nama agama.

“Ini yang harus kita waspadai. Dalam berbagai kesempatan saya juga sering menyampaikan bahwa kita tidak perlu menggunakan bahasa agama dalam pilkada. Sebab, bahasa agama itu sangat sensitif dan takutnya bisa salah gunakan oleh kelompok kelompok tertentu atau kelompok radikal untuk memecah belah masyarakat,” kata Waryono.

Menurutnya, orang akan mudah tersentuh dan sangat emosional ketika agamanya itu merasa dihina atau dicaci.

 “Jadi, hindarilah menggunakan bahasa agama. Tidak usah memakai dalil macam-macam. Misalnya, mengatakan tidak usah memilih orang yang beda agama dari dalil ini atau menyebut bahasa agama untuk dialamatkan kepada orang lain yang beda agama. Tentunya itu tidak pas,” kata pria kelahiran Cirebon, 10 Oktober 1972 ini.

Dia menjelaskan, selama ini isu SARA paling mudah digunakan oleh kelompok tertentu untuk memecah belah masyarakat

“Sebab, memang isu SARA itu yang paling laku. Kalangan elite pun sebenarnya juga paham bahwa kalau sudah pakai isu SARA, “sumbu pendeknya” sangat mudah dan enak. Itu sebenarnya yang harus dihindari kalangan elite,” ujar Waryono. 

Menurut dia, agama pun telah melarang penggunaan isu SARA untuk disampaikan ke masyarakat sebagai alat memecah belah.

“Bagi saya, baik di kalangan elite dan masyarakat harus sama-sama bisa menahan diri. Yang elite jangan memanfaatkan atas nama masyarakat dan yang masyarakat pun juga jangan ikut-ikutan serta merta dengan kalangan elite ini,” ucap Waryono. (jos/jpnn)


Waryono Abdul Ghafur mengimbau masyarakat tidak menyebarkan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di media sosial.


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News