Selasa, 18 Desember 2018 – 21:07 WIB

Jiwasraya Tunda Bayar Polis, Gerindra: Ini Tanda Bahaya

Jumat, 12 Oktober 2018 – 22:40 WIB
Jiwasraya Tunda Bayar Polis, Gerindra: Ini Tanda Bahaya - JPNN.COM

Heri Gunawan. Foto: Humas DPR

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan menyoroti masalah yang dihadapi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Manajemen BUMN tersebut terpaksa menunda pembayaran klaim untuk nasabah produk asuransi yang dijual lewat bank mitra (bancassurance). Total klaim yang terpaksa ditunda tersebut mencapai Rp 802 miliar.

"Penundaan pembayaran klaim nasabah yang dialami Jiwasraya ini adalah alarm bagi buruknya tata kelola BUMN selama ini. Jiwasraya mengaku mengalami tekanan likuiditas, sehingga tidak mampu melakukan pembayaran klaim kepada nasabah," kata Heri di Kompleks Parlemen,, Jakarta, Jumat (12/10).

Politikus Gerindra ini menilai ada dua hal yang melatarbelakangi masalah di Jiwasraya. Pertama, tekanan likuiditas BUMN tersebut sangat dipengaruhi oleh situasi pasar modal yang sedang lesu.

Kelesuan pasar modal sendiri sangat terkait dengan kinerja ekonomi pamerintah yang buruk, terutama terus terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Saat ini, lanjutnya, Jiwasraya memegang portfolio di marketable securities yang terlalu banyak. Pada kondisi harga saham dan instrumen keuangan turun seperti ini, sulit bagi mereka untuk menjual portfolionya.

"Jiwasraya bisa saja menjual, namun langkah tersebut bisa dituduh sebagai hal yang merugikan negara. Sehingga ketika butuh cash seperti sekarang, Jiwasraya terkunci dan tidak bisa bergerak," jelas politikus asal Jawa Barat ini.

Situasi ini menurutnya bisa mendorong dikeluarkannya pinjaman dari pemerintah kepada Jiwasraya, bahkan mungkin tidak tertutup kemungkinan meminta Penyertaan Modal Negara (PMN).

Kedua, tekanan likuiditas Jiwasraya juga tidak terlepas dari fenomena gunung es tata kelola BUMN yang buruk. Secara umum, pengelolaan perusahaan pelat merah selama ini dijalankan seperti kuda pacuan yang diarahkan untuk berlomba- lomba mengejar profit semata.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar