JPNN.com

Kasus JIS, Hakim Harus Berani Lakukan Terobosan

Kamis, 06 Agustus 2015 – 19:50 WIB Kasus JIS, Hakim Harus Berani Lakukan Terobosan - JPNN.com
Kasus JIS, Hakim Harus Berani Lakukan Terobosan

JAKARTA -- Aktivis dari Human Rights Watch (HRW) Andreas Harsono, menduga ada rekayasa dalam kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh dua guru Jakarta Intercultural School (JIS), Neil Bantleman dan Ferdinan Tjong.

Menurut dia, indikasi itu terlihat dari adanya putusan Pengadilan Singapura yang menyatakan kalau Ferdinan dan Neil tidak terbukti melakukan kekerasan seksual terhadap AL, siswa TK JIS, berdasarkan bukti hasil anuscopi terhadap AL.

Menurut Andreas, harusnya bukti medis yang dijadikan dasar Pengadilan Singapura bisa menjadi bahan pertimbangan hakim di Indonesia. "Karena pemeriksaan medis di Singapura jauh lebih detil dan melibatkan banyak dokter ahli," kata dia, Kamis (6/8).

Seperti diketahui, 16 Juli 2015 Pengadilan Singapura telah menvonis DR, ibu AL bersalah dan harus membayar ganti rugi senilai USD 230 ribu atau sebesar Rp 2,3 miliar kepada Neil Bantleman, Ferdinan Tjong dan JIS.

DR dinyatakan bersalah karena mencemarkan nama baik ketiga pihak tersebut, lantaran tuduhan terhadap Neil dan Ferdi telah melakukan tindak kekerasan seksual kepada anaknya AL, tidak terbukti.

Pengamat hukum Universitas Brawijaya, Fachrizal Afandi mengatakan pengadilan harus berani melakukan terobosan untuk menyelamatkan hukum serta memastikan bahwa kebenaran dan keadilan harus diberikan kepada yang berhak.

Menurut dia, dalam kasus JIS materi yang dipersoalkan di Singapura dan Indonesia itu sama yakni tindak kekerasan seksual dengan obyek sama termasuk bukti atau fakta medisnya. Jadi, ia mengingatkan, jangan mengabaikan fakta-fakta medis untuk ungkap kebenaran.

"Jangan sampai orang bersalah dihukum oleh perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan," kata dia.  (boy/jpnn)

TAGS   JIS

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
tomo