Kenapa Vanuatu Selalu Begitu Kepada Indonesia?

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Kenapa Vanuatu Selalu Begitu Kepada Indonesia?
Peta Republik Vanuatu. Foto: Google Map

Belanda tidak ikhlas kehilangan Indonesia yang selama ratusan tahun menjadi sumber kekayaan berlimpah yang menjadikan Belanda makmur. Setelah melewati berbagai peperangan dan negosiasi yang alot, Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1959.

Itu pun dilakukan Belanda dengan setengah hati. Belanda masih tetap ingin menancapkan pengaruhnya di beberapa wilayah Indonesia, terutama di Papua.

Belanda mendesak agar Papua diberi hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Pemerintah Indonesia mempertahankan Papua mati-matian, antara lain melalui operasi militer Trikora—tiga komando rakyat—pada 1961-1962.

Belanda kemudian setuju menyerahkan penyelesaian masalah Irian Barat kepada PBB (Peserikatan Bangsa Bangsa). Keputusan kemudian diambil untuk melakukan referendum yang dikenal sebagai Pepera pada 1969.

Pada pelaksanaan referendum itu sekitar seribu orang diseleksi untuk memberikan suara, hasilnya secara aklamasi mereka memilih bergabung dengan Indonesia dan menolak menjadi bagian Belanda.

Proses pemilihan ini dianggap penuh rekayasa dan banyak pihak yang mempertanyakan keabsahan hasilnya. Pepera--dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘’The Act of Free Choice—kemudian diplesetkan menjadi ‘’The Act of No Choice.

Sampai sekarang proses Pepera masih ada yang mempertanyakan. Sampai sekarang integrasi Papua masih belum tuntas seratus persen. Gerakan separatis Papua masih tetap aktif dalam bentuk Operasi Papua Merdeka yang menghendaki pemisahan dari Indonesia.

Organisasi Pembebasan Papua Barat yang dipimpin oleh Benny Wenda, sampai sekarang masih tetap berkampanye untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat.

Dalam lima tahun terakhir sejak 2016 di forum Sidang Umum PBB, Vanuatu selalu menyoal Indonesia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News