Kerancuan Kelamin, Mematikan tapi Bisa Disembuhkan

Kerancuan Kelamin, Mematikan tapi Bisa Disembuhkan
Keluarga Torikin, dari kiri, Zakaria, Alfiyah, Taufan Al Habid (digendong ayahnya, Torikin), Iklas Suni, dan Nur Iman (digendong ibunya, Seni) di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang Jumat (13/3). Foto: Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semar

jpnn.com - SEMARANG - Direktur Centre for Biomedical Research (Cebior) RSND Semarang, Prof Dr Sultana M.H. Faradz menjelaskan, tiga putra Torikin mengalami hiperplasia adrenal kongenital (HAK) atau congenital adrenal hyperplasia (CAH).

”Yakni, kelainan pada kelenjar anak ginjal yang menyebabkan adanya exposure androgen atau hormon laki-laki yang berlebihan,” jelas Sultana.

Dari hasil uji laboratorium, ketiga anak pasangan Torikin, 42, dan Seni, 39,  yakni Zakaria, 11; Taufan Al Habid, 4; dan Nur Iman, 2– terbukti memiliki gen perempuan. Padahal, saat ini mereka berpenampilan seperti anak laki-laki.

Menurut Sultana, meski tergolong berbahaya dan mematikan, jenis penyakit itu masih dapat disembuhkan dengan menggunakan terapi obat secara teratur. Berdasar catatan Sultana, dari 800 penderita kelainan kelamin yang pernah ditangani di RSND, 70 orang terkena CAH.

”Ada satu pasien yang bisa sembuh total dan sekarang menikah dan punya keturunan,” sebut dia.

Syarat penyembuhan penderita CAH adalah konsumsi obat secara rutin. Namun, kini yang masih menjadi kendala, terang dia, obat jenis hydrocortison tersebut hanya diproduksi di luar negeri. Dia mengakui bahwa pihaknya sudah lebih dari lima tahun ini mendapat doping obat dari Belanda.

”Kami pernah mengusulkan kepada menteri kesehatan untuk memenuhi obat ini di Indonesia. Akhirnya, tahun ini janjinya sudah terpenuhi. Namun, penyediaan obat bernama hydrocortison bisa tergolong masih dalam keadaan darurat karena hanya tersedia di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sehingga jika penderita ingin mendapatkan obat tersebut, harus ke sana,” paparnya.

Selain itu, setiap tiga bulan si penderita penyakit tersebut harus rajin kontrol untuk mengecek perkembangan penyakit yang diidapnya.

SEMARANG - Direktur Centre for Biomedical Research (Cebior) RSND Semarang, Prof Dr Sultana M.H. Faradz menjelaskan, tiga putra Torikin mengalami

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News