Kesaksian Penambang Ilegal Selamat dari Maut saat Terjadi Banjir dan Longsor

Kesaksian Penambang Ilegal Selamat dari Maut saat Terjadi Banjir dan Longsor
Pengungsi korban banjir dan longsor di Posko Pengungsian Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak, Jumat (10/1). Foto: ANTARA/Masyur Suryana

jpnn.com, LEBAK - Penambang emas ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) selamat dari bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi Rabu (1/1). Saat itu, para penambang ilegal sedang libur Tahun Baru.

"Jika hari itu tidak libur dipastikan banyak penambang emas ilegal menjadi korban bencana banjir bandang dan tanah longsor," kata Hendar (22), seorang penambang emas ilegal saat ditemui di Posko Pengungsian GOR Desa Banjar Irigasi Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak, Banten, Jumat (10/1).

Hendar beruntung saat terjadi bencana itu, dirinya sedang berada di rumah. Setiap pergantian tahun, kata Hendar, semua penambang emas ilegal di kawasan TNGHS tidak bekerja.

"Kami tidak bisa membayangkan jika kejadian itu bukan hari libur, dipastikan banyak penambang emas ilegal menjadi korban jiwa," kata warga Cinyiru Desa Banjarsari, Kecamatan Lebak Gedong itu.

Ia mengaku bekerja sebagai buruh penambang emas ilegal di Blok Cisoka kawasan TNGHS dengan menggali lubang sampai kedalaman antara 100-200 meter untuk mencari bongkahan bebatuan emas.

Penggalian lubang hanya masuk sekujur tubuh dengan dilengkapi lampu penerang, kipas angin dan pahat serta palu.

Bebatuan emas itu dimasukkan dalam karung dan diangkut ke atas menggunakan tali untuk diambil oleh pekerja lainnya.

Bongkahan emas itu, kata dia, nantinya diolah menggunakan alat untuk menjadi butiran emas oleh pemilik modal atau bos.

Penambang ilegal di kawasan Gunung Halimun Salak selamat dari bencana banjir dan longsor karena saat itu sedang libur Tahun Baru.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News