Ketidakpercayaan Warga kepada Aparat Hambat Vaksinasi di Papua

Ketidakpercayaan Warga kepada Aparat Hambat Vaksinasi di Papua
Warga menerima suntikan vaksin COVID-19 dosis pertama di Agats, Asmat, Papua, Kamis (01/07/2021). (Supplied: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Target vaksinasi COVID-19 di Papua masih rendah, tapi penyebabnya bukan hanya peredaran informasi yang salah dan hoaks soal vaksin.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI hingga Jumat hari ini (30/07), baru 6,35 persen atau sekitar 160 ribu warga Papua yang sudah menerima dua dosis vaksin dari target lebih dari 2,5 juta orang.

Sementara mereka yang baru menerima dosis pertama tercatat sebanyak 13,8 persen atau sekitar 354.000 orang. 

Ambrosius Mulait, salah satu aktivis Papua mengatakan selain maraknya hoaks yang beredar soal vaksinasi, sebagian warga Papua khawatir mendatangi tempat vaksinasi yang melibatkan aparat TNI/ Polri.

"Lebih pada [karena] trauma," kata Ambros, panggilan akrabnya.

"Yang mereka takutkan itu akibat dari banyaknya operasi [keamanan] di Papua, sehingga apa pun program yang dilakukan Pemerintah Indonesia, itu menjadi sangat sensitif untuk orang asli Papua."

"Apalagi sebelumnya itu ada orang sehat yang masuk ke rumah sakit, keluarnya mayat," tutur Ambros.

Ambros merujuk pada laporan kematian tiga orang kakak beradik di tangan aparat keamanan pada Februari 2021, menurut kelompok hak asasi dan saksi mata.

Selain maraknya hoaks dan berbagai teori konspirasi, ada penyebab lain yang menyebabkan program vaksinasi COVID-19 tersendat, yakni ketidakpercayaan pada aparat

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News