Selasa, 20 November 2018 – 14:40 WIB

Ketika Banyuwangi Punya Bandara dan Penerbangan Komersial

Kamis, 30 Desember 2010 – 08:23 WIB
Ketika Banyuwangi Punya Bandara dan Penerbangan Komersial - JPNN.COM

PERESMIAN: Wamenhub Bambang Susantono dan Gubernur Soekarwo turun dari pesawat Grand Caravan di Bandara Blimbingsari, Rogojampi, kemarin. Foto: GALIH COKRO/RADAR BANYUWANGI

Banyuwangi mencatat sejarah baru. Mulai kemarin (29/12), Bandar Udara Blimbingsari bisa melayani penerbangan komersial Surabaya-Banyuwangi dan Banyuwangi-Denpasar. Jarak Surabaya-Banyuwangi pun kini bisa ditempuh hanya dalam 45 menit.
--------------------------------------------
ICHSAN RASYID, Banyuwangi
-------------------------------------------
Launching penerbangan perdana Surabaya-Banyuwangi dan Banyuwangi-Denpasar itu dilakukan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Upacara peresmiannya sempat molor dua jam karena terganggu cuaca buruk dan abu vulkanis Gunung Bromo yang menyembur.

Akibatnya, upacara di kompleks Bandara Blimbingsari yang semula dijadwalkan pukul 12.00 tersebut diundur hingga sekitar pukul 14.00. Hadir dalam acara itu, antara lain, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Wagub Jawa Timur Saifullah Yusuf, dan Direktur Sky Aviation Krisman Tarigan.

Pesawat Sky Aviation yang ditumpangi rombongan Soekarwo dari Surabaya juga sempat melintasi jalur yang lebih jauh, yakni melalui Madura lebih dulu sebelum ke Banyuwangi. Sebab, pesawat sembilan seat tersebut harus menghindari abu vulkanis letusan Gunung Bromo yang tertiup angin. Karena itu, penerbangan Surabaya-Banyuwangi sejauh 297 km yang seharusnya bisa ditempuh dalam 30?45 menit molor hingga 55 menit. Pesawat kecil itu akhirnya landing dengan mulus pukul 13.56.

"Abu letusan Gunung Bromo cukup mengganggu penerbangan tadi, sehingga harus memutar-mutar dulu di Madura," ujar Wagub Jatim Saifullah Yusuf yang terbang lebih dulu dibanding penerbangan rombongan gubernur.

Kehadiran para pejabat dari Surabaya itu disambut hangat Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan wakilnya, Yusuf Widyatmoko. Maklum, Azwar Anas termasuk ikut membidani realisasi penerbangan komersial Surabaya-Banyuwangi dan Banyuwangi-Denpasar itu.

Menurut Anas, rute penerbangan dari dan ke daerahnya tersebut merupakan jawaban atas tantangan Gubernur Soekarwo terhadap dirinya saat dilantik menjadi bupati Banyuwangi. "Saya diminta gubernur untuk segera mengoperasikan Bandara Blimbingsari. Saya lalu menargetkan sebelum 2011 dan alhamdulillah hari ini sudah terealisasi," paparnya.

Pengoperasian bandara yang memiliki panjang runway 1.400 meter dan lebar 30 meter itu, cerita Anas, berawal dari pertemuan dirinya dengan pemilik PT Sky Aviation di salah satu tukang jahit di Jakarta. Saat itu, dia menantang PT Sky Aviation untuk membuka rute penerbangan dari Bandara Blimbingsari.  "Saya sampaikan, jika bersedia membuka rute penerbangan dari Banyuwangi, Anda cukup menyediakan alat transportasi udaranya. Transportasi daratnya, Pemkab Banyuwangi yang akan menyediakan," ucap Anas yang mendapat aplaus dari para undangan.

Tawaran tersebut, tampaknya, menarik minat PT Sky Aviation. Dalam waktu tidak terlalu lama, negosiasi dilakukan dan akhirnya PT Sky Aviation memutuskan untuk membuka rute penerbangan dari Bandara Blimbingsari ke Surabaya dan Denpasar. Direktur PT Sky Aviation Krisman Tarigan mengungkapkan, rute penerbangan dari Bandara Blimbingsari itu dibuka berkat kegigihan Bupati Anas. "Tanpa kegigihan Bupati Abdullah Azwar Anas, penerbangan ini tidak akan terwujud," ujarnya.

Dengan dibukanya rute penerbangan tersebut, kata dia, transportasi dari dan ke Banyuwangi bisa dilakukan secara lebih efisien. Semula, perjalanan darat dari Banyuwangi ke Surabaya harus ditempuh dalam tujuh hingga delapan jam. Namun, dengan penerbangan, perjalanan Banyuwangi-Surabaya bisa ditempuh kurang dari sejam.

"Begitu juga ke Denpasar, yang semula ditempuh empat hingga lima jam, kini bisa dilalui kurang dari sejam," katanya. Untuk tahap pertama, PT Sky Aviation membuka penerbangan tiga kali dalam seminggu. Yakni Rabu, Jumat, dan Senin. Penerbangan itu menggunakan pesawat jenis Grand Caravan dengan sembilan tempat duduk. Jika respons masyarakat Banyuwangi bagus, kata Krisman, akhir Januari 2011 pihaknya mengoperasikan pesawat jenis Fokker-50. "Januari mendatang kami mendatangkan enam pesawat jenis Fokker-50 dari Belanda," jelasnya.

Pesawat carteran itu saat ini masih mematok tarif relatif murah. Tiket satu penumpang Banyuwangi-Surabaya dan sebaliknya hanya Rp 700 ribu. Sementara itu, rute Banyuwangi-Denpasar dan sebaliknya hanya Rp 400 ribu. "Mudah-mudahan penerbangan ini menjadi alternatif alat transportasi yang diinginkan masyarakat," harap Krisman.

Pembukaan rute penerbangan Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, membutuhkan waktu yang cukup panjang. Bahkan, pembangunan bandara tersebut telah mengantarkan dua mantan bupati Banyuwangi dan lima pejabat teras pemerintah daerah berurusan dengan hukum. Peletakan batu pertama pembangunan Bandara Blimbingsari dilakukan Wakil Presiden Hamzah Haz pada 2003. Pembangunan itu tidak berjalan mulus karena beberapa kendala.

Pada era Bupati Samsul Hadi, bandara tersebut sudah beberapa kali akan dioperasikan. Namun, rencana itu selalu gagal karena tidak ada operator yang sanggup membuka rute penerbangan. Pada era Bupati Ratna Ani Lestari juga direncanakan beberapa kali penerbangan komersial. Namun, rencana tersebut juga selalu gagal dengan alasan yang sama, tidak ada perusahaan penerbangan yang sanggup. Ratna hanya berhasil mengoperasikan pesawat latih siswa Bali International Flying Academy (BIFA).

Selama beberapa bulan, bandara yang dibangun dari dana patungan Pemkab Banyuwangi dan APBD Jatim itu digunakan untuk latihan penerbangan. Baru pada era kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas bandara tersebut bisa dibuka untuk penerbangan komersial. Itu terjadi setelah Anas sukses bernegosiasi dengan perusahaan penerbangan PT Sky Aviation. Harapan dan impian masyarakat Banyuwangi untuk memiliki bandara udara pun akhirnya terwujud.

Tidaklah mudah mewujudkan bandara itu. Gara-gara pembangunan bandara tersebut, dua mantan bupati Banyuwangi harus rela ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung. Bupati Samsul Hadi menjadi tersangka pada proses pengadaan lahan pada 2002?2005. Dalam sidang di pengadilan, bupati pertama pada era otonomi daerah itu divonis bersalah dan harus menjalani hukuman enam tahun penjara.

Selain Samsul, mantan Bupati Ratna Ali Lestari menjadi tersangka dalam pembahasan lahan 2006?2007. Hanya, hingga saat ini Ratna belum menjalani proses hukum di pengadilan hingga purnatugas dari jabatan bupati.

Bukan hanya mantan bupati. Beberapa pejabat teras pemkab juga terseret menjadi terpidana dalam pembebasan lahan mulai 2003 hingga 2007. Mereka adalah mantan Sekkab Sudjiarto, mantan Kabag Umum Bambang Wahyudi dan Budianto, mantan Camat Kabat Sugeng Siswanto, serta mantan Kabag Perlengkapan Sugiarto. Dua mantan kepala BPN, Nawolo Prasetyo dan Suharno, juga menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pembebasan lahan yang dinilai merugikan keuangan negara.

Gubernur Jatim Soekarwo menyampaikan apresiasi atas kerja keras Pemkab Banyuwangi dalam mewujudkan penerbangan dari Bandara Blimbingsari. Melalui pengoperasian bandara itu, dia optimistis Banyuwangi akan maju pesat. "Pengoperasian penerbangan ini merupakan produk pemikiran yang luar biasa dalam memenuhi harapan masyarakat."

Tidak hanya memuji, pemprov siap membantu pengembangan operasional Bandara Blimbingsari. "Hanya gubernur yang tidak sehat yang tidak mau membantu kelancaran operasional Bandara Blimbingsari," tegasnya.

Sementara itu, Wamenhub Bambang Susantono berharap pembukaan rute penerbangan Banyuwangi-Surabaya dan Banyuwangi-Denpasar bisa merangsang terciptanya iklim investasi. Ketersediaan sarana transportasi, kata dia, bukan segalanya. Yang terpenting adalah terciptanya iklim investasi serta iklim untuk wisatawan. "Suatu saat, pesawat jenis jet akan masuk di Bandara Blimbingsari," katanya optimistis. (*/bay/jpnn/c5/ari)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar