Ketika Rusia - Amerika Jadikan Suriah Ajang Unjuk Kekuatan

Ketika Rusia - Amerika Jadikan Suriah Ajang Unjuk Kekuatan
Rusia melancarkan serangan pertama kali di Kota Homs, Suriah baru-baru ini. Foto: Reuters

Di tempat terpisah, Presiden AS Barack Obama mengadakan konferensi pers di Gedung Putih untuk menanggapi serangan Rusia. Dia menyatakan bahwa Rusia tidak bisa membedakan antara pasukan ISIS dan oposisi Sunni yang ingin Assad lengser.

''Dari perspektif mereka (Rusia, Red), semua adalah teroris. Itulah resep untuk sebuah bencana,'' tegas Obama. Serangan Rusia diperkirakan hanya membuat ekstremisme di Syria kian menguat. AS menolak bekerja sama dengan Rusia jika Putin terus mendukung Assad. ''Usaha Rusia dan Iran untuk mendukung Assad dan menenangkan penduduk hanya akan membuat mereka terjebak di kubangan dan itu tidak akan bekerja,'' tambah Obama.

Saat ini, di dalam negeri, Obama juga mendapat kritikan tajam dan sorotan lantaran serangan Rusia tersebut. Sebab, Rusia dinilai bisa unjuk kekuatan di Syria akibat Obama ogah-ogahan mengerahkan segenap kekuatan di Damaskus.

Program pelatihan yang gagal juga menjadi kritik tersendiri. Bukannya berhasil menumpas ISIS, pasukan pemberontak yang mereka latih justru memberikan senjata bantuan dari AS ke Front Al Nusra, organisasi di bawah Al Qaeda. Artinya, AS malah mempersenjatai militan lain dan tambah memperkeruh suasana. Padahal, selama ini pasukan AS turut memerangi Al Qaeda dan organisasi-organisasi di bawahnya.

Serangan Rusia yang banyak mbleset itu juga dikemukakan Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon. Dia menyebutkan bahwa hanya satu di antara 20 serangan udara Rusia yang mengenai markas ISIS. Selebihnya adalah serangan terhadap markas pasukan oposisi yang memberontak ke Assad. Selama empat hari ini, serangan Rusia dilakukan setiap pagi hari.

''Rusia hanya berusaha memperkuat Assad dan mengabadikan penderitaan (penduduk Syria, Red),'' tutur Fallon kepada The Sun. Menurut Fallon, banyak serangan yang menyasar penduduk sipil karena tidak adanya panduan bagi pilot-pilot jet tempur Rusia.

Kritikan senada diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dia mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin mempertimbangkan kembali strategi serangan di Syria. Dia memperoleh informasi bahwa Rusia telah menewaskan 65 orang di Syria. Tidak diketahui apakah jumlah tersebut penduduk sipil saja ataukah termasuk militan ISIS dan para pemberontak. Erdogan bahkan berencana berbicara langsung dengan Putin terkait dengan hal itu.

Gencar dikecam, pemerintah Rusia membela diri. ''Saya ingin menegaskan bahwa tidak ada serangan ke infrastruktur milik penduduk, terutama bangunan yang dihuni,'' jelas Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov.

BELAKANGAN, krisis Syria mempertemukan Amerika Serikat (AS) dan Rusia di palagan yang sama. Sekali lagi, dua negara yang terlibat Perang Dingin itu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News