JPNN.com

KH Rizal Maulana: Kalau Berdakwah Jangan Memecah Belah dan Memprovokasi

Senin, 23 November 2020 – 07:51 WIB
KH Rizal Maulana: Kalau Berdakwah Jangan Memecah Belah dan Memprovokasi - JPNN.com
Seknas Dakwah Jabodetabek. (ANTARA/HO-Dok Seknas Dakwah)

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Seknas Dakwah Jabodetabek KH Rizal Maulana mengingatkan kepada seluruh pemuka agama jangan berdakwah dengan tujuan politik tertentu apalagi memprovokasi umat, karena itu bisa memecah belah persatuan bangsa.

Hal ini disampaikan KH Rizal Maulana mencermati maraknya dakwah, orasi, dan unduhan di media sosial yang bernuansa politis dan terkesan menyalahkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Bahkan cenderung menghina dan menyerang kelompok lain, di mana terkesan menggiring umat ke arah polarisasi dan perpecahan serta adu domba di kalangan sesama umat muslim. Kami menilai ini sangat membahayakan," kata Kiai Rizal Maulana dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (22/11) malam.

Dia menyebutkan, materi dakwah yang memecah belah semacam itu berpotensi menjerumuskan umat ke jurang perang saudara seperti yang terjadi di Irak, Libya, Suriah, Afghanistan, dan negara-negara Arab lainnya.

Sesuai fiqih Ahlussunnah wal Jamaah, ujar Kiai Rizal, haram hukumnya berlaku makar dan melawan pemerintahan yang sah.

"Kami menolak segala bentuk dakwah yang berpotensi memecah belah dan memprovokasi perlawanan terhadap pemerintah yang sah, radikalisme, dan intoleran," tegasnya.

Karena itu, para pemuka agama, ulama, habaib, dan para ustaz harus selalu mengedepankan semangat dakwah bil hal atau keteladanan dalam perbuatan, dan akhlakulkarimah melalui sikap, perilaku, tutur kata, dan nasihat, seperti yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW guna terwujudnya Islam rahmatan lil'alamin dengan damai dan sejuk.

Mengenai sikap tegas Polri dan TNI terkait kerumunan massa di kediaman Habib Rizieq Shihab di Petamburan, hingga penertiban baliho-baliho liar di wilayah Ibu Kota, Seknas Dakwah Jabodetabek mengapresiasinya.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fathra