Kisah Gatot Brajamusti dan Penyelundup Sabu yang Kini Mualaf

Kisah Gatot Brajamusti dan Penyelundup Sabu yang Kini Mualaf
Sejumlah narapidana mengikuti kegiatan tadarus Alquran di aula Lapas Mataram, Sabtu (27/5). Tampak Gatot Brajamusti (kanan). Foto: DIDIT/LOMBOK POST/JPNN.com

Ya, Koo Jia Jiat sendiri telah menjadi mualaf sejak ia tertangkap petugas gabungan karena menyelundupkan sabu dari Malaysia.

Mualafnya Koo atau kini dikenal dengan nama Abdullah, tak lepas dari peran Gatot Brajamusti. Mantan Ketua PARFI itulah yang mengislamkan Koo, ketika sama-sama menjadi tahanan di Polda NTB.

Ramadan tahun ini, memang menjadi Ramadan yang kali pertama untuk Koo. Kepada Lombok Post (Jawa Pos Group), Koo mengaku tidak ingin jika Islam-nya hanya sekadar di mulut saja. Hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi tidak menjalankan ibadah wajib dan sunah lainnya.

Karena itu, dia dengan serius menyimak setiap ayat yang dibacakan.”Saya tak paham hurufnya, belum bisa baca. Jadi cuma mendengarkan saja,” kata Koo.

Bagaimana dengan puasa? Ditanya hal itu, Koo mengaku tidak ada hambatan selama ia berpuasa, meski berada di dalam Lapas. Hanya saja, di puasa hari pertamanya, dia lupa jika tengah berpuasa.

Satu batang rokok pun sempat ia genggam untuk dihisap. Beruntung ada penghuni lainnya yang mengingatkan jika ia masih menjalani ibadah puasa.

”Rokok ini tak kuat. Dua kali lupa kalau sedang puasa. Tapi teman-teman lain sudah ingatkan, jadi tak sempat batal,” ungkap dia.

Koo mengaku cukup senang menjalani Ramadan dengan segala rutinitas ibadahnya. Bagi dia, Lapas bukan tempat para penjahat. Melainkan untuk introspeksi diri atas kesalahan yang pernah ia perbuat.

Kumandang azan isya bergema di setiap sudut Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram, NTB. Suara ini memanggil seluruh warga binaan, para tahanan dan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News