Kisah Migran di Australia Bergelar S2 yang Kerja di Tempat Cuci Baju

Kisah Migran di Australia Bergelar S2 yang Kerja di Tempat Cuci Baju
Malis Yunn recently stepped up to lead the sewing team at Blueline Laundry, drawing on the seamstress skills she learnt in her home country of Cambodia, September 30 2020. (ABC News: Selina Ross)

Diektur utama perusahaan ini, Michael Sylvester, mengatakan pihaknya berusaha mencari potensi yang belum dimanfaatkan di antara para pekerja lepas.

"Salah satu pemborosan dalam bisnis adalah tidak terpakainya potensi secara maksimal," katanya.

Michael mengatakan di tengah pandemi seperti ini mereka berusaha mencari setiap peluang untuk mempertahankan bisnis agar usahanya tetap terbuka dan berlanjut.

"Kami kehilangan 83 persen pelanggan. Kami sangat terpukul," kata Michael.

Pihaknya lalu menghubungi para pekerja untuk lebih menanyakan kualifikasi mereka. Khususnya para pekerja migran yang bekerja di sana.

"Dari 25 orang pekerja migran yang bekerja di Hobart, ternyata ada 31 gelar sarjana atau gelar lebih tinggi, karena beberapa di antaranya memiliki lebih dari satu gelar master," jelasnya.

Kisah Migran di Australia Bergelar S2 yang Kerja di Tempat Cuci Baju Photo: Pramila Maharjan asal Nepal mulai bekerja sebagai tukang cuci pakaian dan memiliki gelar S2 bidang TI. Kini dia ditempatkan di bagian kendali mutu. (ABC News: Selina Ross)

 

Menurut Michael, para pekerja migran umumnya berada di posisi inti dalam bidang operasional, yang selama ini sulit diisi oleh pekerja lokal.

Meskipun memegang dua gelar master di bidang teknologi informasi, Manu Kaur kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor tersebut

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News