Kisah Thitacarini, Biksuni Peraih Summa Cum Laude

Kisah Thitacarini, Biksuni Peraih Summa Cum Laude
Biksuni Thitacarini, berdoa saat detik-detik menjelang perayaan Waisak di Candi Sewu, Klaten, Senin (29/5/18). FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

jpnn.com - Pasti tidak banyak biksuni yang memiliki gelar doktor (PhD). Thitacarini merupakan kombinasi dua hal yang sedikit itu.

HENDRA EKA

SUDAH beberapa minggu ini Thitacarini kembali ke Indonesia. Biasanya, hari-harinya dihabiskan dengan belajar di Universitas Kelaniya, Sri Lanka. Thitacarini kembali ke Indonesia karena sejumlah kegiatan.

Salah satunya, menjadi panitia inti konferensi umat Buddha se-Asia pada 15–17 September di gedung Prasadha Jinarakkhita., Jakarta. Tempat itu memang spesial bagi Thitacarini. Di sanalah dia menetap sementara selama berada di Jakarta.

Jawa Pos menemui Thitacarini di gedung tersebut. Saat itu tampak sembilan piring kecil berwarna merah yang berisi lauk-pauk dan buah-buahan segar. Siap disajikan untuk makan siang sang biksuni.

Ada sajian nasi, bihun goreng, terong, kentang balado, telur dadar, sayur buncis, sayur sawi putih, nanas, dan semangka. Serbavegetarian. Tak ketinggalan, dua botol minuman sari kedelai dan lou han kuo (teh herbal) menemani makan siangnya.

Sebelum makan, Thitacarini bersama lima perempuan yang menyajikan makanan tersebut berdoa bersama. Thitacarini duduk di kursi, sedangkan lima perempuan lain lesehan di sekitar kursi sambil berdoa sejenak.

Makanan tersebut merupakan sumbangan dari dana umat Buddha yang berkunjung ke gedung Prasadha Jinarakkhita. (PJ). ”Makanan ini semua sumbangan umat, sarapan dan makan siang saya semuanya berasal dari dana umat,” ujarnya.

Di dunia ini tidak banyak perempuan yang memilih jalan hidup sebagai biksuni, Thitacarini salah satunya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News