Kuda Bima

Oleh: Dahlan Iskan

Kuda Bima
Dahlan Iskan di Sumbawa. Foto: Disway.id

jpnn.com - SAYA sendiri takut berdiri di belakang kuda: awalnya. Apalagi ketika kuda itu membuat langkah mencurigakan: terus saja berusaha membelakangi saya.

Saya pun memutar ke sampingnyi. Takut dia slentak - -ada yang tahu slentak dalam bahasa Indonesia? Tapi kuda betina itu ikut memutar. Tetap memposisikan pantatnyi di depan saya.

"Jangan takut pak," ujar kepala dusun di lereng Timur Tambora, Sumbawa, itu. "Dia memang begitu," tambahnya.

"Dia memang selalu minta agar kita mengelus-elus pantatnyi," kata Pak Kadus.

Saya pun mulai mengusap-usap pantatnyi. Dia merasa nyaman. Lalu lebih memepetkan pantatnyi ke tubuh saya. Dia lagi hamil. Gerakan itu begitu spontan. Dan lembut. Dan seksi.

Jikalau sempat divideo akan sangat menggemaskan: mungkin Prof Pry akan menuduh saya ingin berbuat mesum dengan kuda betina.

Pagi-pagi itu Pak Kadus baru tiba dari kebun jagung. Berjalan kaki. Satu jam. Belum tidur. Kebun jagungnya, 2 hektare, harus aman dari babi hutan.

Kami sudah seperti keluarga. Saya sudah dianggap seperti kakak mereka. Sampai-sampai ketika kami berfoto bertiga bisa bikin cemburu Prof Pry. Apalagi istri Pak Kadus itu pakai kacamata hitam yang keren. Tidak kalah dengan bintang film yang pernah mendekati saya untuk minta foto bersama –yang saya baru tahu nama bintang film itu setelah foto beredar di medsos.

Jikalau sempat divideo akan sangat menggemaskan: mungkin Prof Pry akan menuduh saya ingin berbuat mesum dengan kuda betina.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News