LCGC Dorong Kontribusi Ekonomi 0,3 Persen

LCGC Dorong Kontribusi Ekonomi 0,3 Persen
LCGC Dorong Kontribusi Ekonomi 0,3 Persen

jpnn.com - JAKARTA - Program mobil murah atau low cost green car (LCGC) terus dalam sorotan. Kementerian Keuangan menilai program ini bisa meningkatkan risiko membengkaknya volume BBM subsidi. Namun di sisi lain, program ini berhasil mendongkrak kinerja sektor otomotif.

Associate Director Frost & Sullivan Asia Pacific Dushyant Sinha mengatakan, program LCGC kini memang menjadi tren di ASEAN, mulai dari Thailand, Malaysia, hingga Indonesia. "Khusus untuk Indonesia, pengembangan mobil LCGC bisa berkontribusi 0,3 persen pertumbuhan ekonomi," ujarnya kemarin (28/4).

Dalam laporannya, lembaga riset dan konsultan bisnis internasional ini menyebut LCGC berpotensi menjadi game changer (pengubah permainan) dan membentuk lanskap baru dalam pasar otomotif Indonesia. Ini dikarenakan pesatnya pertumbuhan masyarakat kelas menengah baru di Indonesia yang berpotensi menjadi pembeli mobil. "Jadi, pasar mobil LCGC akan membesar," katanya.

Frost & Sullivan memproyeksi pasar otomotif Indonesia akan tumbuh 6,5 persen tahun ini atau mencapai mencapai 1,31 juta unit. Dari jumlah tersebut, produk LCGC akan menjadi salah satu tulang punggung dengan kontribusi lebih dari 125.000 unit atau tumbuh 144 persen dari angka penjualan 2013.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gakindo) menunjukkan, sepanjang Januari - Februari 2014 lalu, penjualan mobil LCGC menembus angka 30.556 unit. Ini terdiri dari Toyota Agya 13.983 unit, Daihatsu Alya 8.364 unit, Honda Brio Satya 4.358 unit, dan Suzuki Wagon R 3.851 unit. Secara total sejak diluncurkan tahun lalu, penjualan mobil LCGC hingga Februari 2014 lalu sudah lebih dari 80.000 unit.

Menurut Sinha, membesarnya pasar tersebut akan seiring dengan tumbuhnya investasi produsen otomotif untuk berkompetisi di ceruk pasar LCGC. Frost & Sullivan memperkirakan, produsen otomotif akan menambah investasi hingga 12,5 persen untuk mengembangkan produk LCGC. Jumlah tersebut bisa meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga 8 persen dari total pekerja sektor otomotif, ditambah dengan tumbuhnya industri pendukung. "Itulah sumbangannya pada pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Frost & Sullivan mengakui, keberadaan LCGC di Indonesia juga tak lepas dari polemik. Dia menyebut, beberapa pihak kurang setuju dengan pengembangan LCGC karena meningkatkan kemacetan jalan raya. Sebelumnya, Menteri Keuangan Chatib Basri juga mengkritik mobil LCGC karena ternyata para pembelinya menggunakan BBM subsidi. Padahal, saat pembahasan awal, LCGC diarahkan untuk menggunakan BBM nonsubsidi. "Karena itu, pemerintah akan mendorong atau bahkan memaksa LCGC untuk menggunakan BBM nonsubsidi," ujarnya.

Sinha mengatakan, pemerintah Indonesia memang awalnya memberikan insentif mobil LCGC agar harganya terjangkau, namun dengan syarat tidak mengkonsumsi BBM subsidi. Apalagi, ada potensi penerimaan fiskal yang hilang akibat insentif LCGC senilai USD 80 juta atau lebih dari Rp 880 miliar. "Tapi dari sisi sektor otomotif, pengembangan LCGC harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan dari Thailand," katanya. (owi)


JAKARTA - Program mobil murah atau low cost green car (LCGC) terus dalam sorotan. Kementerian Keuangan menilai program ini bisa meningkatkan risiko


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News