Lengser

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Lengser
Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

Ketika ibundanya, Sudjiatmi Notomihardjo, meninggal dunia akhir Maret lalu, Jokowi melakukan brobosan, berjalan melewati bawah keranda jenazah ibunda, sebuah ritual khas Jawa. 

Jokowi disebut kehilangan pepunden yang menjadi inspirasi kekuatan politiknya sebagaimana Pak Harto kehilangan Bu Tien pada 1996, dan SBY kehilangan Ny Ani Yudhoyono, 2019.

Pernyataan lamun sira sekti memunculkan berbagai tafsir politik, karena pernyataan itu “sangat Jawa”. 

Apakah Jokowi masih tetap memersepsikan diri sebagai Raja Pasca-Jawa pada periode kedua kekuasaannya sekarang, ataukah dia sudah berani membuka jati diri sebagai Raja Jawa sebagaimana para pendahulunya?

Tidak ada konsep oposisi dalam filosofi kekuasaan Jawa. Karena itu, meskipun menjadi sakti karena menang perang dia tidak mateni, tidak membunuh. Maka Prabowo pun tidak dipateni, malah dirangkul dan dipangku.

Lamun sira pinter aja minteri, lamun sira banter aja ndisiki. Kepada siapa pernyataan itu paling tepat ditujukan oleh Jokowi? Dalam kondisi krisis sekarang ini pernyataan itu, mungkin, cocok ditujukan kepada para haters dan oposisi yang “banter” dan “pinter”, atau kepada para pengritiknya yang terlalu “banter” dan “pinter”.

John Pamberton dan Ben Anderson yang banyak melakukan riset mengenai konsep kekuasaan Jawa menyatakan raja tidak boleh salah, idu geni, ludah api, sabda pandita ratu, ucapannya adalah sabda yang menjadi hukum, sabda raja adalah sabda Tuhan. 

Pantang malu, pantang mengingkari sabdanya. Karena itu ia harus didengar dan tak boleh dibantah.

Jokowi adalah penguasa pasca-Jawa. Dialah Raja Pasca-Jawa yang mendekonstruksi semua paradigma kekuasaan lama sejak Soekarno.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News