Mahasiswa Indonesia di Australia Bertahan Hidup dengan Sisa Tabungan

Mahasiswa Indonesia di Australia Bertahan Hidup dengan Sisa Tabungan
Pemegang 'Temporary Visa', termasuk pelajar internasional, tidak mendapatkan bantuan ekonomi yang dibuat Pemerintah Australia. (ABC Life: Nathan Nankervis)

"Sebagai mahasiswa internasional kita memang seharusnya sudah siap dengan risiko apapun itu di waktu [berlakunya] visa kita," kata David.

"Misalnya saya sedang mengambil Master's degree dua tahun, berarti saya ... bertanggung jawab atas expense atau kebutuhan saya selama dua tahun itu."

Walau mengatakan pernyataan dari Scott Morrison bisa diterima, David yang sempat menjadi pemegang Work and Holiday Visa (WHV), merasakan kesulitan bertahan hidup di Australia.

Setelah diberhentikan dari pekerjaan kontraknya sebagai pembersih dan penjaga bar kecil di Mindil Beach Casino Resort di Darwin, David harus bergantung pada tabungannya.

Kini sejumlah warga Indonesia di Australia, termasuk di Kawasan Australia Utara, melakukan berbagai upaya untuk membantu mahasiswa dan peserta program WHV.

Mereka menawarkan bantuan dalam bentuk makanan serta kebutuhan pokok sehari-hari, bahkan menawarkan tempat untuk tinggal sementara.

"Sejauh ini tabungan masih bisa mencukupi untuk bayar sewa, tapi memang terasa [sulitnya]," kata David kepada Natasya Salim dari ABC News.

"Makan sih oke, karena menurut saya makan bisa diirit. Terus kalau makanan untuk seminggu ini sih puji Tuhannya masih banyak yang memberikan lewat komunitas Indonesia dan teman yang bekerja di restoran yang beralih menjadi takeaway."

Pemerintah Australia menganjurkan mereka yang memegang 'Temporary Visa', termasuk pelajar internasional, untuk mempertimbangkan pulang ke negara asalnya, jika mereka tidak dapat mencukupi biaya hidup akibat pandemi virus corona di Australia

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News