Mahasiswi Papua di Australia: 'Indonesia Anggap Kita Setengah Manusia'

Mahasiswi Papua di Australia: 'Indonesia Anggap Kita Setengah Manusia'
Anak-anak korban kerusuhan Wamena yang mengungsi di Kodim 1702/Jayawijaya, Sabtu (5/10/2019). Foto: ANTARA/Desi Purnamawati

"Inilah alasan mengapa kita tidak ingin jadi bagian dari Indonesia," kata Wiwince.""Karena Indonesia anggap kita setengah manusia, memanggil kita monyet, babi, anjing, bodoh," ujarnya.

Ia menceritakan saat ada pertandingan sepakbola dengan tim Papua, para penonton melemparinya dengan kulit pisang, "sebagai simbol monyet" yang gemar makan pisang.

"Kita tidak takut, saatnya warga Papua melawan balik karena tindakan rasisme yang dilakukan Indonesia kepada Papua Barat."

Menanggapi panggilan "monyet" tersebut, sekelompok orang juga sempat berdemo di depan kantor KJRI Melbourne, Jumat lalu (23/08) sambil meneriakkan slogan "Papua Merdeka".

Awal pekan kemarin (26/08), Presiden Joko Widodo telah menegaskan jika warga Papua juga memiliki harga diri dan martabat, sehingga tindakan rasis tidak biasa dibiarkan terjadi di Indonesia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah menyerukan agar warga Papua memberikan "pengampunan" dan "kesabaran" atas insiden yang terjadi di Jawa Timur, namun pernyataannya malah mendapat banyak kecaman.

Para pengamat menilai permintaan maaf yang dianjurkan Presiden atau pun dialog singkat tidak akan cukup mengatasi persoalan yang sudah menumpuk di Papua selama ini.

Aksi-aksi seperti demonstrasi dan protes semakin berkembang di Papua dan Papua Barat dan sejumlah pengamat khawatir kondisi ini akan bergeser ke tuntutan menggelar referendum.

Seorang mahasiswi Papua Barat yang sedang kuliah di Australia menyampaikan kekhawatirannya menyusul serangkaian insiden di tempat kelahirannya, Papua Barat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News