Makin Berbahaya, Makin Istimewa

Trekking di Merapi Saat Kondisi Siaga

Makin Berbahaya, Makin Istimewa
Gunung Merapi diabadikan dari Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, (22/10) sehari setelah status dinaikkan menjadi siaga (Level 3). Warga dan wisatawan diharapkan tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari puncak Gunung Merapi yang termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Foto: HERMITIANTA/RADAR JOGJA
SAAT Merapi ditetapkan dalam kondisi siaga, beberapa orang malah tertarik melakukan trekking di sana. Tentu saja, trekking di Merapi saat kondisi siaga berbeda dengan kondisi normal. Alat komunikasi harus berfungsi. Ketika kondisi makin gawat, semua orang harus turun secepat mungkin, meski belum mencapai puncak.

--------------------------

LUTFI RAKHMAWATI, Sleman

-------------------------

Christian Awuy sudah menjadi guide kegiatan trekking di Merapi sejak 24 tahun lalu. Dalam briefing sebelum trekking yang dilakukan jam 04.00 WIB, kemarin (24/10), dia menjelaskan kondisi Merapi dan aktivitas vulkanisnya.

Merapi memang ditetapkan siaga. Tapi bukan berarti kegiatan trekking tidak boleh lagi dilakukan. Asal dibimbing profesional dan dilengkapi alat komunikasi, trekking cukup aman dilakukan. Tetapi, karena kondisi Merapi sedang bergejolak, tentu ada beberapa peraturan berbeda dalam trekking kemarin. "Kita akan terus berkoordinasi dengan pos pemantauan. Kalau misalnya kondisinya cukup aman, kita bisa pergi sampai batas daerah berbahaya," tuturnya sambil menunjuk daerah yang diwarnai orange dalam peta Merapi.

SAAT Merapi ditetapkan dalam kondisi siaga, beberapa orang malah tertarik melakukan trekking di sana. Tentu saja, trekking di Merapi saat kondisi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News