Masyaallah

Oleh Dahlan Iskan

Masyaallah
Dahlan Iskan berfoto bersama mahasiswa Indonesia di Pakistan dengan latar Masjid Masjid Badshahi. Foto: disway.id

Saya pun sudah belajar sabar itu. Selama seminggu di Pakistan. Sabar dengan pelayanan yang lambat. Dengan antrean yang tidak tertib. Dengan lalu-lintas yang 'masyaallah'. Dengan variasi makanan yang terbatas. Dengan perbedaan pendapat yang tajam.

Kata 'masyaallah' sengaja saya pergunakan di situ. Untuk menunjukkan kekaguman saya pada Pakistan: begitu banyak tulisan 'masyallah' di Pakistan. Dalam huruf Arab. Dalam berbagai variasi. Di gedung-gedung. Di toko-toko. Di kaca mobil.

Saya sering bertanya pada orang Pakistan: mengapa banyak tulisan 'masyaallah' itu. Mengapa misalnya tidak ada tulisan 'subhanallah'.

Saya belum berhasil menemukan jawaban yang memuaskan. Saya pun minta tolong teman-teman mahasiswa itu. Untuk mencarikan jawaban filosofisnya.

Malam itu kami juga diskusi... hahaha... sepak bola. Yang mengajukan agenda sepak bola itu Nuha. Yang sekolah hafal Quran tadi. Nuha begitu jengkel dengan pengelolaan sepak bola kita. Semangat sekali.

Nuha memang kelihatan agak 'kacau'. Dari pesantren hafal Quran ia kuliah psikologi. Di Pakistan pula. Cita-citanya kelak membeli klub sepak bola dunia. Lewat bisnis.

Padahal sepak bola Pakistan... apanya yang bisa dipelajari. Ini negeri kriket. Bukan sepak bola. Lihatlah di jalan-jalan di kota Karachi. Banyak papan nama 'Karachi City of Kriket'. Perdana menterinya pun pemain dunia kriket.

Bagus Asri Wibawa juga bercita-cita ingin bisnis. Ayahnya, orang Pringsewu, Lampung. Pedagang.

Di Pakistan jangan bilang bahwa masjid terbesar itu ada di Indonesia. Masjid Istiqlal. Mereka tidak akan percaya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News