Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya?

Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya?
Foto: Dok/JPNN
Apa yang sebenarnya terjadi?

Sabtu pagi (30/1), jam 06.30 wib, saya minta salah seorang manajer PLN menemani saya ke Tenggilis Mejoyo. Saya hanya mau ditemani manajer yang paling bawah yang tahu persis keadaan lapangan. Tidak perlu ditemani para pimpinan PLN tingkat atas. Toh saya tidak bermaksud melakukan inspeksi atau sidak. Saya benar-benar hanya ingin belajar memahami apa yang terjadi, mengapa terjadi dan apakah bisa dicarikan jalan keluar yang sifatnya lebih mendasar dan lebih berlaku umum. Yakni jalan keluar yang bisa diterapkan untuk mengatasi persoalan yang sama di seluruh Indonesia.

Mula-mula saya minta diantar ke sebuah rumah pelanggan di Tenggilis Mejoyo yang lampunya mati 10 jam itu. Saya ingin menelusuri persoalan dari yang paling bawah sampai yang paling pokok. Di rumah pelanggan itu saya minta ditunjukkan sistem kabelnya. Lalu ke mana alirannya. Terus ke mana lagi dan ke mana lagi. Sampai akhirnya ke gardu induk.

Kabel listrik di sebuah rumah selalu berasal dari satu tiang yang ada di depan rumah tersebut. Inilah yang disebut tiang TR (tegangan rendah). Saya menyebutnya tiang pembagi. Satu tiang seperti ini melayani 6 atau 8 rumah. Di ujung atas tiang TR tersebut ada 8 buah konektor. Masing-masing untuk satu rumah. Kalau misalnya ada kejadian hanya satu rumah yang mati lampu, maka persoalannya ada di konektor ini. Biasanya konektor ke rumah tersebut  terbakar.

Penyebab terbakarnya konektor adalah karena "gigitan" konektornya merenggang. Karena renggang itulah maka konektornya panas sekali, lalu terbakar. Mengapa "gigitan" konektor itu merenggang? Ini umumnya disebabkan saat pemasangannya dulu kurang teliti dan kurang sempurna. Dalam satu kawasan setingkat kira-kira satu kecamatan, terjadi kebekaran konektor rata-rata 10 kali sehari.

RASANYA tidak masuk akal. Apalagi, itu terjadi di akhir bulan Januari 2010 di saat semestinya tidak mungkin terjadi listrik mati begitu lamanya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News