Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya?

Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya?
Foto: Dok/JPNN

Mengapa sebuah trafo hanya melayani 50-an tiang konektor? Tidak bisakah beberapa trafo 200kva itu digabung ke sebuah trafo yang lebih besar? Agar jumlah trafo tidak terlalu banyak sehingga mengontrolnya lebih mudah? Ini menarik untuk diperdebatkan. Tapi saya memaklumi mengapa trafo kecil banyak dipakai.

Trafo kecil itu mula-mula diperlukan karena dulunya perumahan di situ masih sedikit. Kian lama rumahnya kian banyak. Trafo kecil itu tidak cukup lagi. Lalu dibangun trafo kecil lainnya tidak jauh dari situ. Tapi jumlah rumah masih terus bertambah lagi. Maka trafo pun ditambah lagi, ditambah lagi. Begitulah seterusnya sehingga terlalu banyak trafo kecil di mana-mana.

Terlalu banyaknya trafo kecil 200kva itu membuat kontrol dan pemeliharaannya kian sulit. Rupanya karena itu kontrol dan pemeliharaan trafo ini diserahkan ke pihak swasta. Out sourching, istilahnya. Apakah trafo ini pemeliharaannya cukup? Petugas PLN yang mendampingi saya mengatakan sudah cukup. Swasta yang melakukan pekerjaan itu selalu melaporkan datanya.

Hanya saya agak kaget ketika diberitahu bahwa kontrol yang disebutkan cukup itu ternyata ini: enam bulan sekali. Itulah kontrak yang dilakukan antara PLN dengan swasta yang melakukan tugas kontrol itu. Oh, saya tahu: saya harus belajar banyak lagi apakah kontrol trafo setahun dua kali itu cukup? Apakah laporan hasil kontrol itu juga dikontrol dengan baik?

RASANYA tidak masuk akal. Apalagi, itu terjadi di akhir bulan Januari 2010 di saat semestinya tidak mungkin terjadi listrik mati begitu lamanya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News