Melebihi Musim Haji, Jamaah Umrah Membludak

Melebihi Musim Haji, Jamaah Umrah Membludak
Melebihi Musim Haji, Jamaah Umrah Membludak

jpnn.com - JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) mulai serius mengawasi pelaksanaan umrah. Sebab setiap tahun, jumlah jamaah umrah meningkat. Seperti pada sepuluh hari terakhir puasa kemarin, jumlah jamaah umrah melebihi jumlah jamaah haji. 

Informasi suasana umrah ini disampaikan Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenag Mochammad Jasin. Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu berada di Arab Saudi sejak pekan terakhir Ramadhan hingga saat ini. Dia berada di sana untuk mengawasi proses pengadaan pemondokan dan akomodasi jamaah haji lainnya.
 
"Sepuluh hari terakhir (Ramadan, red) banyak sekali jamaah umrahnya. Kepadatannya melebihi jamaah haji pada umumnya," kata Jasin melalui sambungan telepon. Dia mengatakan jamaah umrah yang membludak itu tidak semuanya dari Indonesia. Namun Indonesia tetap menjadi penyuplai jamaah umrah setiap tahunnya. Jumlah jamaah umrah Indonesia setiap tahunnya lebih dari 500 ribu orang.
 
Jasin menuturkan dengan samakin banyaknya aktivitas ibadah umrah, Kemenag mulai membagi konsentrasinya. Selama ini menurut Jasin, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag lebih terkonsentrasi mengurusai haji saja. "Sekarang mulai menata dan mengurusi jamaah umrah. Para jamaah umrah tetap harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah," papar dia.
 
Intervensi atau keterlibatan pemerintah dalam kegiatan ibadah umrah ini mendesak. Sebab selama ini kegiatan ibadah umrah murni ditangani oleh swasta. Di dalam negeri sendiri, banyak kasus jamaah umrah gagal berangkat karena penipuan. Modusnya beragam, tetapi rata-rata menawarkan tarif umrah murah sekali.
 
Di luar kesibukannya mengawal proses tender akomodasi haji, Jasin juga mengamati jamaah umrah dari Indonesia. Dia mengatakan ketika jumlah jamaah umrah meningkat, kini memunculkan sederet masalah baru.
 
Diantaranya adalah kasus jamaah umrah yang sakit sehingga harus dirujuk ke rumah sakit. Kasus jamaah umrah yang sakit sepert ini bisa gawat, jika biro travelnya tidak memberikan layanan darurat. Biasa jadi jamaahnya dibiarkan sakit, sampai pulang ke tanah air karena tidak ada cost darurat untuk jamaah yang sakit.

Kasus lainnya adalah jamaah umrah yang kehilangan barang-barang berharganya. Kemudian juga banyak jamaah umrah yang tersesat karena terpisah dari rombongannya. Kasus-kasus jamaah umrah ini sejatinya sudah ditangani oleh KJRI di Jeddah dan Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI).
 
Tetapi menurut Jasin, perlu ada upaya strategis untuk menangani jamaah umrah supaya tidak dirugikan. Diantaranya adalah penyelenggara umrah Indonesia harus melaporkan kepada KUHI di Jeddah tentang data lengkap jamaah umrah yang diberangkatkan.
 
Data itu mencakup nama, alamat, usia, dan rekaman kesehatan. Sehingga bisa dilakukan upaya antisipasi mengatasi kondisi darurat. "Pihak travel juga harus melaporkan tempat pemondokan yang disewa," kata dia. Sehingga ketika ada permasalahan, perwakilan Indonesia bisa memberikan respon cepat.
 
Sementara yang terjadi saat ini, kegiatan ibadah umrah dilakukan seperti kegiatan wisata luar negeri. Urusan cukup selesai sampai proses visa ke perwakilan Arab Saudi di Jakarta saja. Setelah itu travel di dalam negeri memasrahkan jamaahnya kepada rekan kerja mereka di Arab Saudi. Biasanya ada pendamping yang diikutsertakan. Tetapi ada juga yang tidak menyertakan pendamping dari travel tanah air. (wan)


JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) mulai serius mengawasi pelaksanaan umrah. Sebab setiap tahun, jumlah jamaah umrah meningkat. Seperti pada sepuluh


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News