Meliput Kawasan Nikel di Indonesia, Mendengar Kisah Kehidupan Manusia

Meliput Kawasan Nikel di Indonesia, Mendengar Kisah Kehidupan Manusia
Ilustrasi bijih nikel. Foto: CARLOS ALONZO / AFP

"Nikel yang mineral itu, kan? Kenapa bisa bikin menangis? Kok aneh, liputan nikel tapi terus nangis?" tanya seorang kawan keheranan mendengar jawaban saya, saat dia menanyakan tentang liputan terakhir saya mengunjungi sejumlah kawasan nikel di Indonesia.

Yang bikin nangis bukan nikelnya, memang.

Tapi bagaimana dampak demam nikel dan ambisi Indonesia menjadi hub kendaraan listrik menyentuh banyak orang dan kehidupan mereka. Itu yang bikin sesak.

Memang seperti pisau bermata dua.

Ada yang diuntungkan, tapi tak bisa dipungkiri, banyak jejak kerusakan yang juga menyengsarakan.

Hampir semua narasumber menangis saat menuturkan cerita mereka kepada saya.

Cerita bagaimana tambang nikel dan smelter nikel membuat hidup mereka tidak lagi sama seperti yang dulu.

Tidak semua isakan mereka bisa dilihat di dokumenter ini, tapi sukses melekat dalam ingatan saya. 

Hampir semua narasumber menangis saat menuturkan cerita mereka. Cerita bagaimana tambang nikel dan smelter nikel membuat hidup mereka tidak lagi sama seperti yang dulu.

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News