Sabtu, 20 Juli 2019 – 12:04 WIB

Menelusuri Jejak Islam di China dari Mesjid Tertua Guangzhou

Menara Mesjid Itu Dulunya Juga Mercu Suar

Minggu, 14 November 2010 – 11:00 WIB
Menara Mesjid Itu Dulunya Juga Mercu Suar - JPNN.COM

DWIFUNGSI - Menara mesjid yang dulunya juga dipakai sebagai mercu suar. Foto: Afni Zulkifli/JPNN.

China atau Tiongkok, selain dikenal sebagai negara komunis, juga sebenarnya memiliki peradaban dan jejak-jejak budaya Islam yang kuat. Terutama kawasan China bagian selatan, dengan Guangzhou sebagai salah satu kota utamanya. Berikut sedikit catatan dari kesempatan mengunjungi mesjid tertua yang ada di kota itu.

Laporan AFNI ZULKILFI, Guangzhou

GUANGZHOU
merupakan kota dengan luas sekitar 7.400 km persegi yang terletak di China bagian Selatan. Ibukota provinsi Guangdong ini telah menjelma menjadi kota megapolitan. Kota dengan penduduk sekitar 13 juta jiwa ini, tampak semakin cantik dengan berbagai taman bunga dan fasilitas berkelas internasional, saat menjadi tuan rumah Asian Games 2010 yang saat ini sedang berlangsung.

Bukan hanya memberikan fasilitas serba "wah" kepada setiap atlet, ofisial dan tamu yang datang, pemerintah Guangzhou juga memperhatikan berbagai aspek pariwisata dari unsur sejarah kota mereka. Ini terlihat seperti saat wartawan JPNN bersama rombongan dari PB PON Riau, berkesempatan mengunjungi salah satu situs bersejarah peninggalan Islam tertua di China, yang berlokasi tepat di jantung Kota Guangzhou, akhir pekan kemarin.

Situs bersejarah ini berupa bangunan mesjid. Namanya Mesjid Huaisheng. Letak mesjid ini tepatnya berada di Jalan Guangta nomor 56, Guangzhou. Sekilas melihat, tidak ada yang istimewa dari bagian depan bangunannya. Pintu mesjid berbaur dengan bangunan-bangunan modern masa kini. Yang membuat suasana mesjid terasa, adalah banyaknya toko-toko penjual makanan berlabel halal dengan perpaduan tulisan China, Inggris dan Arab. Saat memasuki pintu mesjid, pengunjung pun langsung disambut nuansa nyaman dan tenang. Seluruh areal mesjid tua ini, rimbun dengan berbagai pepohonan hijau dan bunga berbagai jenis.

Bangunan mesjid berhiaskan berbagai relief dan arsitektur unik perpaduan Arab dan China. Mesjid yang dibangun pada masa Dinasti Tang ini, dicatat sejarah sebagai mesjid pertama yang dibangun di daratan China, yaitu sekitar tahun 1.300 Masehi. Terdapat tiga pintu di halaman, sebelum akhirnya memasuki bangunan utama mesjid yang berdiri di area seluas 3.200 meter persegi itu.

Sana (35), seorang relawan lokal yang menemani JPNN berkeliling area mesjid menceritakan, awal mula Islam di Guangzhou diperkenalkan oleh para pedagang Arab dan Persia, pada masa Dinasti Sui-an. Para pedagang ini pun berbaur dengan penduduk lokal, serta mulai mengajarkan Islam yang saat itu sudah berkembang pesat di tanah Arab.

Meski akhirnya Islam tersebar bukan hanya di Guangzhou, namun tidak ada satu mesjid pun yang berdiri. Barulah pada masa awal Dinasti Tang, seorang pedagang dari Arab yang disebut pula sebagai paman Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan ibunya, bernama Sa'ad Ibnu Abi Waqqas, mewujudkan pembangunan sebuah mesjid yang diberi nama Mesjid Huaisheng, yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai "tempat berlindung orang-orang hebat".

Mesjid yang dibangun Sa'ad Abi Waqqas ini memiliki keindahan arsitektur khas Dinasti Tang yang antik. Unsur kebesaran Dinasti Tang tampak pada relief-relief kaligrafi yang berada di seluruh bangunan mesjid khas China itu. Sementara di halaman bagian depan kanan mesjid, berdiri gagah sebuah menara berwarna putih, dengan ketinggian sekitar 36,3 meter.

"Selain untuk mengumandangkan adzan, dulunya saat dibangun Sa'ad ibn Abi Waqqash, menara ini juga berfungsi sebagai mercu suar. Karena bangunan mesjid terletak di tepian laut, menara tinggi ini bermanfaat sekali guna memperingatkan kapal-kapal yang lewat," jelas Sana.

Ditambahkan Sana, menara putih tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah yang penting. Sementara, seluruh unsur bangunan mesjid katanya, juga mewakili konstruksi bangunan di awal-awal berdirinya Republik China. Bahkan untuk melindungi aset milik pemerintah ini, Mesjid Huaisheng dijadikan sebagai cagar budaya dan aset nasional yang dilindungi.

"Selain mesjid, yang menjadi aset sejarah Islam di China adalah makam Sa'ad Ibnu Abi Waqqas yang adalah paman dari Nabi Muhammad SAW. Kedua tempat ini menjadi tempat terkenal dan suci untuk muslim China. Selama berabad-abad, sudah jutaan muslim dari seluruh daratan China dan dunia, datang mengunjungi lokasi ini," tutur Sana pula.

Sana pun mengungkapkan, di Guangzhou sendiri selain Mesjid Huangsheng, ada dua mesjid lainnya. Masing-masing yakni Mesjid Haopan dan Mesjid Xiaodongying. Mesjid Haopan dibangun pada tahun 1465, saat Dinasti Ming berkuasa, dan terletak di Jalan Haopan, di area seluas 1.491 meter persegi. Sedangkan Mesjid Xiaodongying dibangun oleh seorang tentara dari provinsi di luar Guangdong, pada masa Dinasti Ming. Mesjid ini berdiri lebih dari 500 tahun lalu dan terletak di Jalan Yuehue. (*)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar