Sabtu, 22 September 2018 – 20:08 WIB

Meninggal Karena Kolesterol, Mungkinkah?

Sabtu, 10 Maret 2018 – 05:13 WIB
Meninggal Karena Kolesterol, Mungkinkah? - JPNN.COM

jpnn.com - Kolesterol merupakan momok bagi sebagian besar orang. Pasalnya, ada sejumlah ancaman pada kesehatan jika tingkat kolesterol mencapai angka yang tinggi, yaitu berupa penyakit mematikan seperti stroke dan jantung koroner.

Rayuan berbagai makanan nikmat nan lezat memang sudah banyak memakan korban. Siapa yang tidak tergiur saat disuguhi berbagai makanan khas Padang, aneka gorengan, ayam saus telur asin, burger, atau beragam sajian seafood?

Berbagai makanan yang pada umumnya dikategorikan sebagai enak dan enak sekali memang dikenal memiliki kadar kolesterol tinggi, khususnya kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL).

Sebetulnya ada dua jenis kolesterol, yaitu kolesterol jahat atau LDL dan high-density lipoprotein (HDL), atau dikenal dengan kolesterol baik. LDL berfungsi mengalirkan kolesterol ke seluruh tubuh, sehingga kelebihan LDL dapat menyebabkan penumpukan lemak pada dinding arteri. Kebalikannya, HDL berperan baik dalam membuang kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dan mencegah penumpukan.

Kadar LDL yang berlebih (lebih dari 130 mg/dl) akan menyebabkan penumpukan di pembuluh darah, yang lama-kelamaan akan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya, terjadilah serangan jantung dan stroke, yang bukan tak mungkin dapat merenggut nyawa.

Kolesterol tinggi menelan banyak korban.

Penyakit kolesterol tinggi diperkirakan telah menyebabkan 2,6 juta kematian dalam setahun di seluruh dunia, yang sebagian besar disebabkan karena serangan jantung. Penyakit jantung memang telah dinobatkan sebagai pembunuh nomor satu di Indonesia, Amerika Serikat, bahkan di dunia.

Begitu berpengaruhnya kadar kolesterol dalam darah terhadap kejadian serangan jantung, 10 persen saja penurunan kolesterol pada laki-laki berusia 40 tahun didapati berhasil menurunkan angka kejadian penyakit jantung sebesar 50 persen. Jumlah ini sedikit berkurang pada laki-laki yang berusia 70 tahun – tapi masih cukup signifikan – yakni sekitar 20 persen.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar