Menyusuri Kepingan Sejarah Perang Dunia II di Indonesia Timur (2)

Museum Didirikan Hanya untuk Sambut Sail Morotai

Menyusuri Kepingan Sejarah Perang Dunia II di Indonesia Timur (2)
Menyusuri Kepingan Sejarah Perang Dunia II di Indonesia Timur (2)

Tak jauh dari sumber Air Kaca, pemerintah pusat kini tengah membangun Monumen PD II dan Trikora di pesisir Morotai. Tapi, belum jelas apa saja benda-benda bersejarah yang dipamerkan dan siapa kelak yang mengelolanya. 

Menurut cerita orang-orang tua kepada Muhlis, peran Morotai dalam PD II begitu sentral. Bahkan, pesawat B-29 Superfoster yang membawa bom atom sebelum diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki (Jepang) sempat transit di Landasan Pitu. “Kata kakek saya, ketika pesawat itu transit di sini, warga diminta menjauh dari Landasan Pitu hingga beberapa kilometer karena khawatir terjadi apa-apa dengan bom itu,” paparnya.

Selain menyuguhkan benda sisa PD II yang kini jumlahnya makin sedikit, Morotai masih menyimpan misteri tentang keberadaan tentara Jepang yang melarikan diri dan diduga masih hidup di hutan Morotai. Seperti diketahui, pada 1974 atau 30 tahun setelah PD II, di hutan Morotai ditemukan seorang prajurit Jepang bernama Teruo Nakamura. Tentara dari Kekaisaran Jepang itu bersembunyi di hutan Galoka karena menolak menyerah kepada sekutu. Nakamura ditemukan tim pencari dari TNI-AU atas permintaan bantuan dari Jepang.

“Orang sini masih yakin ada prajurit lain yang bersembunyi di hutan Morotai. Kami mengenalnya dengan nama Murita,” kata Muhlis yang dua tahun lalu ikut tim pencari tentara Jepang yang masuk ke hutan.

“Saya masuk ke hutan dengan tujuan ke titik di mana orang sering melihat sosok Murita. Ketika itu ada tembakan yang diarahkan kepada kami,” cerita Muhlis.

Tim yakin desing peluru itu keluar dari senapan milik tentara Jepang. Bukti lain adalah ditemukannya puluhan senjata di dalam hutan. Bapak enam anak itu kemudian mengantarkan saya ke sejumlah warga yang mengaku pernah bertemu dengan sosok Murita. Warga itu kebetulan merupakan korban konflik agama di Maluku yang melarikan diri ke hutan pada 2000-an.

Sosok Murita diperkirakan kini berusia 90 tahun. Menurut Muhlis, hal itu masuk akal karena sejumlah prajurit angkatan darat dari Kekaisaran Jepang yang dibawa ke Morotai waktu itu berstatus wajib militer. Mereka dibawa dari Taiwan yang ketika itu masih menjadi koloni Jepang. Usia mereka yang wajib militer kebanyakan masih belasan tahun.

Misteri persembunyian Murita itu hingga kini masih membuat penasaran sebagian warga. Yang jelas, Morotai menyimpan cerita-cerita sejarah PD II. Mestinya kisah itu tak hanya cukup dikenang lewat museum tanpa penjaga. (bersambung/p3/c2/ary)


Jenderal Douglas MacArthur benar-benar menjadikan Morotai pusat kekuatan sekutu untuk memereteli dominasi Jepang di kawasan Pasifik. Di kepulauan


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News