JPNN.com

Misbakhun Bandingkan Bunga Surat Utang Negara ASEAN, Indonesia Terlalu Royal di Masa Pandemi

Minggu, 03 Mei 2020 – 16:21 WIB
Misbakhun Bandingkan Bunga Surat Utang Negara ASEAN, Indonesia Terlalu Royal di Masa Pandemi - JPNN.com
Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR M Misbakhun membandingkan tingkat imbal balik (yield) surat utang dari negara-negara ASEAN pada masa pandemi penyakit virus corona 2019 (COVID-19). Menurutnya, Indonesia justru memberikan yield paling tinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara pada masa pandemi global itu.

“Hanya Indonesia saja yang pergerakan grafik kenaikan imbal balik surat utang pemerintahnya naik tajam dan paling tinggi pada saat negara lain anggota ASEAN menurunkan yield untuk mengatasi pandemi COVID-19 saat ini,” ujar Misbakhun melalui layanan pesan, Minggu (3/5).

Legislator Golkar di Komisi Keuangan dan Perbankan DPR itu memerinci, Filipina memberikan yield 3,5 persen untuk surat utang bertenura 10 tahun. Adapun Thailand memberikan yield 1,18 persen untuk surat utang dengan tenura yang sama.

Syahdan, Malaysia memberikan yield 2,87 persen untuk surat utang bertenura 10 tahun. Sementara Vietnam memberikan yield lebih tinggi ketimbang Malaysia dan Thailand, yakni 3,05 persen.

Di antara negara ASEAN, Singapura memberikan yield paling rendah, yakni 0,90 persen. Adapun Indonesia memberikan yield 7,89 persen.

“Grafik yield Indonesia malah naik tajam pada saat pandemi COVID-19 untuk menarik para pembeli surat utang pemerintah. Ini menunjukkan bahwa negara sebesar Indonesia surat utangnya baru menarik untuk dibeli kalau imbal baliknya tinggi,” ulas Misbakhun.

Oleh karena itu mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan tersebut menyarankan agar pemerintah menerbitkan surat utang untuk pemulihan ekonomi nasional (recovery bond) dengan yield maksimum 2 persen. Pemerintah, katanya, juga bisa menerbitkan zero coupon bond atau surat utang yang tidak memberikan pembayaran bunga secara berkala sebagaimana obligasi pada umumnya demi menyelamatkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Kalau perlu untuk recovery bond imbal baliknya maksimum satu persen saja demi mengatasi pandemi dan membuat jaring pengaman sosial. Yield untuk zero coupon bond cukup 0,5 persen saja demi menyuntik UMKM,” cetusnya.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
ara