Museum Musik Indonesia, dari Etalase Rokok Menjelma Kolektor Ribuan Karya Musisi

Museum Musik Indonesia, dari Etalase Rokok Menjelma Kolektor Ribuan Karya Musisi
Ketua Museum Musik Indonesia (MMI) Hengki Herwanto. Foto: Ridho A Akbar/JPNN.com

Lokasi MMI dekat dengan jantung Kota Malang sehingga sebagian besar pengunjungnya adalah pelajar maupun mahasiswa. Memang Malang dikenal juga sebagai kota pelajar sehingga banyak pengunjung MMI yang datang bukan untuk melihat koleksi-koleksi antik, melainkan demi studi atau penelitian.

Museum musik satu-satunya di Kota Malang itu buka pada pukul 08.00 WIB hingga sore. Akan tetapi, biasanya pengunjung baru mulai terlihat ramai mulai pukul 10.00 WIB.

Hengki menuturkan MMI pada saat awal berdiri hanya memiliki 250 koleksi. Bentuknya berupa kaset, piringan hitam, dan cakram padat (CD).

Kini, MMI mengoleksi banyak kaset lawas dan majalah jadul. Vinil juga melengkapi daftar koleksi MMI.

Poster atau foto bergambar musikus maupun penyanyi legendaris menghiasi dinding MMI. Setiap hari, MMI memutar lagu-lagu dari beragam genre, seperti dangdut, pop, keroncong, dan rock.

Hengky menjelaskan koleksi MMI juga meliputi lagu-lagu berbahasa daerah dari Aceh sampai Papua. Bapak dua anak itu menjelaskan MMI memiliki lebih dari 100 album lagu dengan bahasa dan ciri khas yang berbeda.

Kaset dan CD tentu bukan barang asing bagi generasi baby boomers (lahir sebelum 1964), generasi X (kelahiran 1965-1980), dan generasi Y (kelahiran 1981-1995). Oleh karena itu, mereka bisa bernostalgia di MMI.

Bagaimana cara MMI mengumpulkan puluhan ribu koleksinya itu?

Koleksi Museum Musik Indonesia juga meliputi lagu-lagu berbahasa daerah dari Aceh sampai Papua. Ada bahasa dan ciri khas yang berbeda.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News