Nasionalisme Iptek dan Riset Keanekaragaman Hayati Diperlukan Untuk Kemajuan Bangsa

Nasionalisme Iptek dan Riset Keanekaragaman Hayati Diperlukan Untuk Kemajuan Bangsa
Ahmad Basarah (kanan). Foto: Ricardo/JPNN.com

"Mindset nasionalisme teknologi itu harus kita alami. Fanatik terhadap teknologi dalam negeri harus ada serta mencegah terburu-buru membeli teknologi asing dengan alasan lebih murah," ungkap Guru Besar Fakultas Hukum UGM.

Bagi Laksana Tri Handoko, tantangan global bisa diatasi kalau bangsa ini mempunyai data riset berbasis ilmiah, memperkuat SDM riset dengan menarik talenta muda Indonesia dalam dan luar negeri, dan regulasi yang memberikan perlindungan kepada pemanfaatan keanekaragaman hayati.

Menyikapi termarjinalkan kaum perempuan dalam penguasaaan teknologi dan akses pendidikan, Eva Kusuma Sundari, Ketua Bidang Riset,Teknologi, dan Informasi DPP PA GMNI, mengingatkan prinsip ajaran Bung Karno soal tidak boleh ada rakyat kelaparan, kemiskinan dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak boleh ada eksploitasin manusia atas manusia serta bangsa terhadap bangsa lain.

Eva merujuk pada survei pengembang perangkat lunak global (2020), sebagian besar pengembang adalah berjenis kelamin laki-laki 91,5%, perempuan hanya 8,5%. Realitas pekerjaan pengembangan perangkat lunak didominasi pria.

"Adanya problem kultur tentang rendahnya perempuan yang berkiprah di bidang teknologi karena mereka sejak kecil tidak dididik sebagai risk taker yang boleh salah mengambil keputusan. Sementara laki-laki waktu kecil dididik sebagai risk taker," imbuhnya.

Solusi mengatasi kesenjangan tersebut, menurut Eva Sundari, ialah perlunya dorongan agar pendidikan teknologi bisa diakses bagi perempuan dan anak miskin. Karena biaya pendidikan teknologi mahal, ada problem stigmatisasi terhadap perempuan dan anak miskin yang takut menjangkaunya. Hal ini harus diperangi agar mereka mendapatkan akses pendidikan dan teknologi yang inklusif. Kondisi ini juga terkait beban ganda yang dialami perempuan yang jatuh miskin di saat pandemi Covid-19 saat ini.

Sebagai penutup webinar, Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mengingatkan kembali, Pancasila akan terus menjadi falsafah dan ideologi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perlu menyempurnakan cara mengajarkan Pancasila kepada anak. Selama ini, pendidikan Pancasila lebih banyak pada hafalan tanpa dibarengi contoh dan teladan nyata sehari-hari. Akibatnya, nilai dan gagasan mulia Pancasila sulit diinternalisasi generasi muda.

"Kami ingin mengubah pendidikan Pancasila menjadi lebih holistik dan kreatif. Misalnya pembelajaran berbasis proyek-proyek sosial. Proyek-proyek sosial inilah yang akan membentuk pelajar Pancasila di lapangan," kata Nadiem.

Selain membuka peluang kreatif para perajin, juga ada aspek riset dan teknologi agar produk budaya nasional diterima pasar.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News