Rabu, 21 Agustus 2019 – 18:23 WIB

NU Harus Berubah

Minggu, 19 Juni 2011 – 05:26 WIB
NU Harus Berubah - JPNN.COM

SURABAYA -- Rahasia kekuatan Nahdatul Ulama (NU) ada pada Ideologi, jaringan, dan kaderiasi. Hal tersebut terungkap dalam Sarasehan Intelektual Muda NU di kampus IAIN Sunan Ampel kemarin (18/6). Sarasehan tersebut dihelat dalam rangkaian peringatan seabad kelahiran KH.Abdul Wahid Hasyim, putra pendiri NU KH. Hasyim Asyari.

Dalam sarasehan tersebut, tampil beberapa tokoh muda NU. Seperti Zuhairi Misrawi, Irfan Asy"ari Wahid, Ahmad Baso, Jadul Maula, dan Yusuf Khudlori. Mereka mengemukakan pikiranya masing-masing tentang NU dan masa depannya. Selain mereka, hadir pula beberapa putra Wahid hasyim, seperti Salahuddin Wahid, Lili Chodidjah Wahid, dan Aisyah Hamid Baidlowi.

Salahuddin Wahid didapuk menjadi keynote speaker. Adik mantan presiden RI alm. Gus Dur itu tak berbicara banyak dalam forum. Dia menyatakan, saat ini NU benar-benar menjadi mainan politik. Semua partai politik berusaha mendekati NU, terutama menjelang pemilu.

Padahal, populasi jamaah NU saat ini tidak sampai 50 persen dari jumlah pemilih. "Jadi, langkah partai mendekati NU untuk kepentingan politik itu kurang cerdas," ujarnya. Yang terpenting saat ini, lanjut Salahuddin, adalah bagaimana mengembalikan NU menjadi ormas seperti awal berdirinya dahulu. "Sebab, paradigma NU saat ini masih terfokus pada politik," terangnya.

Dia kemudian membandingkan dengan Muhammadiyah. Salahuddin mengatakan,secara keorganisasian, NU lebihb besar daripada Muihammadiyah. Namun, Muhammadiyah lebih kuat daripada NU. "Ada yang salah dalam organisasi NU," tambahnya.

Kemudian, satu per satu para cendekiawan muda NU memberikan suaranya. Semuanya sepakat, NU harus berubah. Tokoh muda harus jadi penggerak, seperti yang dilakukan Hasyim Asyari semasa hidupnya. Zuhairi Misrawi menekankan adanya gerakan moral di tubuh NU. Contohnya, gerakan wacana dan gerakan ekonomi. "Pemberdayaan ekonomi merupakan hal yang paling krusial," ujarnya.

Kemudian, Ahmad Baso mengingatkan masyarakat tentang tiga rahasia kekuatan NU. Yakni, ideologi, jaringan, dan kaderisasi. Kondisi saat ini, jaringan orang-orang NU mulai dihabisi. Kemudian, ideologi NU diarahkan ke ranah politik. Sehingga, memunculkan persaingan bahkan saling serang antar tokoh NU sendiri.

Kemudian, kaderisasi juga mulai dipengaruhi. "Sekarang, banyak anak muda NU dikader oleh pihak lain," ujarnya. dia menyatakan, NU harus bisa mengembalikan tiga kekuatan tersebut kepada khittahnya. Yakni, untuk membesarkan NU dan membawa manfaat bagi ummat.

Sementara itu, Jadul Maula menyoroti cerminan dua tokoh NU, yakni Hasyim Asyari dan Wahid Hasyim. Menurut Jadul, Tulisan dan pemikiran Hasyim Asyarai tentang Ahlussunnah wal Jamaah bagi keum muda saat ini mungkin dianggap konservativ. Namun, pada zamannya, pemikiran tersebut sangat luar biasa. "Awalnya memang ditujukan untuk melawan kolonialisme," terangnya.

Hasyim Asyari dan Wahid Hasyim, lanjut Jadul, merupakan dua sosok yang memiliki peran unik. "Hasyim Asyari adalah penjaga kemurnian ideologi NU. Sedangkan, Wahid Hasyim merupakan sosok yang punya kekuatan pembaharuan dalam NU," terangnya. Kombinasi keduanya menjadikan NU organisasi yang besar.
 
"Kombinasi keduanya inilah yang saat ini hilang dari tubuh NU," katanya. Tidak ada sosok panutan yang bisa menjaga kemurnian dan menjadi pembaharu NU. Sederhananya, pembenahan yang harus dilakukan adalah pembenahan jati diri. Jika tidak, maka masyarakat akan mudah dijajah oleh pihak lain.

Yusuf Khudlori saat memaparkan pemikirannya lebih banyak berupa sindiran. "Dulu NU lebih banyak temani masyarakat. Sekarang, NU lebih suka menemani pejabat," ujarnya. pernyataan tersebut disambut riuh tepuk tangan para audiens yang hadir dalam sarasehan tersebut.

Menurut dia,NU memiliki modal besar berupa fleksibilitas. Fleksibilitas tersebut membuat NU melihat sebuah permasalahan dengan lebih mendalam. "Jadi tidak gampang mengharamkan sesuatu," terangnya. Yang terjadi saat ini, para tokoh intelektual muslim saat ini dengan mudahnya mengharamkan sesuatu hal.

Irfan Asy"ari Wahid menjadi pembicara terakhir dalam sarasehan tersebut. dia menawarkan pola pikir baru kepada organisasi NU. Yakni, pola pikir yang berorientasi pengembangan kemampuan manusia. "Sebab, saat ini Indeks pembangunan manusia di provinsi basis NU masih rendah," ujarnya.

Menurut putra Salahuddin Wahid itu, NU memerlukan perubahan pola pikir. Terutama, dalam menerjemahkan tujuan pendirian NU. Yakni, sebagai fungsi keagamaan, keilmuan, dan ekonomi. "Politik itu hanya cara, bukan tujuan NU," tegasnya.

Pria yang akrab dipanggil Ipang Wahid itu menambahkan, pemimpin NU ke depan tidak perlu kiai atau pemilik pesantren. Cukup sosok muslim yang taat. "Tapi harus menguasai manajemen skill yang kuat, punya jiwa entrepreneurship tinggi, dan yang terpenting memiliki moral yang baik," ujarnya.

Di sisi lain, ketua panitia Aisyah Hamid Baidlowi menyatakan, selain mengenang Wahid Hasyim dan pemikirannya, kegiatan tersebut memiliki tujuan lain. "kami ingin menyampaikan ke masyarakat jika Indonesia punya pemikir-pemikir handal yang mampu mendobrak paradigma," terangnya.

Ketokohan Wahid Hasyim bisa menjadi inspirasi bagi para pemikir muda saat ini. Sebab, di usianya yang masih muda, wahid Hasyim mampu menyumbangkan pemikiran besar pada negara. Dia menambahkan, hasil seluruh sarasehan yang diadakan pihaknya di berbagai daerah akan dirangkum dalam sebuah rekomendasi.

Rekomendasi tersebut akan diserahkan kepada PBNU, sebagai pucuk pimpinan organisasi NU saat ini. "Terserah, mau dipakai atau tidak. Yang penting, kami sudah berupaya menyumbangkan pemikiran kaum muda NU," pungkasnya. (byu)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar