Organisasi Tunanetra Kecam Istana

Organisasi Tunanetra Kecam Istana
Organisasi Tunanetra Kecam Istana
JAKARTA - Tewasnya Joni Malela, tunanetra asal Manado, saat antre open house di Istana Negara, Jumat (10/9), harus dijadikan pelajaran oleh istana dalam mengadakan open house bagi masyarakat. Orang-orang difabel (cacat) dan jompo harus mendapat perhatian, jangan sampai berdesak-desakan sehingga mengakibatkan jatuhnya korban.

""Seharusnya pejabat berpikir dulu sebelum melaksanakan open house,"" kata Ketua DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DKI Jakarta Bayu Iwan Yulianto saat dihubungi, Sabtu (11/9).

Dia juga mengkritik pemberian angpau kepada para penyandang keterbatasan fisik dalam acara silaturahmi Lebaran dengan keluarga Presiden Bambang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu. Saat open house di istana, khusus penyandang cacat dan orang jompo memang mendapatkan amplop berisi Rp 100 ribu.

Pemberian angpau tersebut membuat makin banyak penyandang cacat yang berminat menghadiri open house yang diikuti ribuan warga itu. ""Setiap open house di istana, makin banyak penyandang tunanetra yang datang. Mereka kebanyakan memburu amplop,"" katanya.

JAKARTA - Tewasnya Joni Malela, tunanetra asal Manado, saat antre open house di Istana Negara, Jumat (10/9), harus dijadikan pelajaran oleh istana

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News