Organisasi Tunanetra Kecam Istana

Organisasi Tunanetra Kecam Istana
Organisasi Tunanetra Kecam Istana
Sebagaimana diberitakan, acara silaturahmi atau open house Presiden SBY di Istana Negara, Jumat lalu, memakan korban jiwa. Joni Malela, 45, tewas setelah berdesakan dengan massa. Dia kelelahan dan tidak bisa bernapas. ""Seharusnya dipisah antara penyandang cacat dan yang tidak. Karena itu, pemerintah harus dimintai tanggung jawab dalam kasus ini,"" tegasnya.

Sejak menjabat presiden, SBY selalu mengadakan open house di Istana Negara. Namun, tidak pernah terjadi insiden. Apalagi menimbulkan korban jiwa seperti yang terjadi kali ini. Selama ini, warga bisa tertib bersalaman dengan presiden dan keluarga.

Open house tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, open house untuk masyarakat luas berlangsung cukup lama. Yakni, pukul 11.00 hingga 18.00 yang dibagi menjadi tiga sesi. Tahun ini, SBY hanya melangsungkan open house selama tiga jam di Istana Negara, pukul 14.00 hingga 17.00. Akibatnya, pengunjung menumpuk. Apalagi, tersiar kabar, masing-masing pengunjung akan mendapat angpau dari istana Rp 300 ribu.

Open house hari kedua SBY di kediamannya di Cikeas yang menjadi tradisi tiap tahun juga sudah ditiadakan. Hal itu membuat konsentrasi massa menumpuk pada waktu yang sangat terbatas. Setneg pun akhirnya harus membatasi jumlah warga yang ingin bersalaman dengan presiden. Setelah kuota dirasa cukup, gerbang ditutup. Pintu gerbang hanya dibuka sedikit saat terjadi saling dorong.

JAKARTA - Tewasnya Joni Malela, tunanetra asal Manado, saat antre open house di Istana Negara, Jumat (10/9), harus dijadikan pelajaran oleh istana

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News