Rabu, 19 Juni 2019 – 02:49 WIB

Oso Temui Nelayan Asing Pencuri Ikan, Inilah Tawarannya

Kamis, 23 Maret 2017 – 13:03 WIB
Oso Temui Nelayan Asing Pencuri Ikan, Inilah Tawarannya - JPNN.COM

Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang saat bertemu nelayan asal vietnam yang berada di detensi PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Pontianak, Selasa (21/3). Foto: Trimujoko Bayuaji/Jawa Pos

jpnn.com, PONTIANAK - Kalimantan Barat selama ini menjadi salah satu garda terdepan Indonesia dalam penanganan praktik illegal fishing nelayan negara tetangga. Puluhan nelayan dari berbagai negara ditangkap, dan sebagian dari mereka saat ini tengah menjalani proses hukum di Pontianak.

Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang berkesempatan melihat langsung kiprah Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dalam menangani pencurian ikan. Puluhan kapal nelayan ikan teronggok di salah satu sudut stasiun PSDKP Pontianak, yang berlokasi tepi sungai kabupaten Kubu Raya.

Untuk tangkapan berupa kapal nelayan berukuran 10 GT, sebagian besar adalah hasil kerja PSDKP selama dua tahun terakhir. Unit dari Kementerian Kelautan dan Perikanan itu pada 2016 telah menangkap 33 kapal nelayan asing.

Jumlah tangkapannya meningkat menjadi 50 kapal nelayan asing pada 2015. Sebagian dari kapal itu telah dimusnahkan, seiring proses hukum yang berkekuatan hukum tetap.

Sebagian besar dari kapal nelayan yang ditangkap berasal dari Vietnam. Bersamaan dengan penangkapan, PSDKP juga mengamankan para nakhoda kapal untuk diproses secara hukum PN Pontianak.

Kebetulan, PN Pontianak memiliki peradilan khusus yang menangani masalah perikanan dan kelautan. Kepala Stasiun PSDKP Pontianak Erik Sostenes menyatakan, para nakhoda yang tertangkap saat ini diamankan di pusat detensi yang juga berlokasi di kompleks PSDKP.

“Saat ini ada 21 nakhoda yang tengah menjalani proses hukum di PN Pontianak,” kata Erik di kantornya, Selasa (21/3).

PSDKP selama ini hanya menampung para nakhoda selama menjalani proses hukumnya. Para anak buah kapal (abk) saat penangkapan berlangsung, diserahkan kepada pihak imigrasi untuk proses deportasi.
 
Saat Oesman Sapta tiba di stasiun PSDKP, Erik menunjukkan pusat detensi tempat lembaganya menampung sementara para nakhoda yang menjalani proses hukum. Di pusat detensi itu, para nakhoda tidak dikurung dalam sel, namun ditempatkan dalam sebuah barak yang menjadi tempat berkumpul bersama.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar