Pahlawan Sichuan

Pahlawan Sichuan
Dahlan Iskan.

Waktu terjadi di South West Airlines, kaca jendela penumpang yang copot. Di Sichuan Airlines ini, kaca depan yang lepas.

Kokpitnya berantakan. Alat-alatnya berubah posisi. Sistem kendali otomatisnya rusak. Angin menerpa keras. Mata tidak bisa dipakai untuk melihat.

Suara angin berisik sekali. Pendengaran pilot terganggu. Angka-angka di kokpit kabur. Udara dingin masuk: minus 40 derajat. Bisa membuat tangan beku. Hanya pilot yang luar biasa tabah yang bisa berpikir dalam kondisi seperti itu.

Sang pilot mengaku ada beberapa pilihan. Menurunkan ketinggian tiba-tiba. Atau turun lebih pelan.

Kalau turun cepat suhu udara segera tidak terlalu dingin. Tekanan udara juga berkurang. Oksigen segera didapat.

Tapi akan banyak penumpang yang menderita. Setidaknya menerima kejutan yang mengagetkan.

Bagi yang tidak mengenakan sabuk pengaman bisa bahaya: kepalanya bisa membentur atap. Keras. Bisa mematikan. Seperti dalam kasus All Nippon Airways puluhan tahun lalu.

Sang pilot memilih menderita sendiri di kokpit. Bersama copilot. Sambil harus tetap tenang. Mengendalikan pesawat secara manual. Minta turun di bandara Chengdu. Penumpang 119 orang, ganti pesawat. Tiga jam kemudian.

Badan pilot kesedot tiba-tiba. Ke arah jendela yang terbuka. Akibat perbedaan tekanan udara. Tapi badan pilot hanya doyong.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News