Pak Manteb

Pak Manteb
Ki Manteb Sudarsono dalam sebuah pertunjukan. Foto: ISWARA BAGUS/RADAR SOLO

Munculnya dalang Ki Enthus Susmono pada 1990-an menjadi contoh bagaimana wayang, yang seharusnya berpegang pada pakem yang konservatif, bisa diinterpretasikan menjadi pertunjukan teatrikal yang menarik penggemar baru.

Pertunjukan teatrikal ala Enthus memantik kontroversi keras di lingkungan penggemar wayang, karena Enthus dianggap merusak—bahkan menghancurkan—filosofi wayang.

Namun, gaya mendalang Enthus yang jauh dari pakem itu malah berhasil menarik banyak penggemar baru.

Dalam filosofi dasar pewayangan, dalang adalah sutradara pengarah lakon, dan wayang adalah aktor yang menjalankan peran sesuai lakon. Dalang dan wayang adalah dua entitas berbeda.

Namun, di tangan Ki Enthus batas itu didobrak, karena sang dalang pun bermain sebagai wayang. Pada sebuah episode Ki Enthus menantang salah satu tokoh wayang untuk berduel.

Gaya mendalang yang tidak lazim ini menjadi daya tarik bagi penggemar muda.

Ki Enthus dijuluki sebagai dalang edan, karena gaya mendalangnya yang edan-edanan. Enthus meninggal dunia pada 2018, dan gaya mendalangnya menjadi legasi yang banyak ditiru oleh dalang-dalang muda.

Pak Manteb mendapat julukan sebagai dalang setan, beda dengan Enthus yang dianggap gila karena merusak pakem, Pak Manteb disebut setan karena keterampilannya yang tinggi dalam memainkan wayang, terutama dalam adegan perang yang disebut sabetan.

Di tangan Pak Manteb, pertempuran wayang menjadi adegan yang hidup, penuh dengan gerakan cepat yang indah dan elegan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News